tentang Totto-Chan

Pict of TottoChan.jpg

Totto-Chan

Novel ini aku beli dua hari sebelum acara Reuni Smandarikal tanggal 9 April 2016. Aku membeli dua Novel di Gramedia Grage Cirebon sambil menunggu suami pulang dan menjemput. Suamiku bertanya dengan penekanan seperti biasa kalau aku membeli Novel, karena dia tahu kalau isi dari novel itu tidak membuat penasaran aku tidak akan pernah menyelesaikan membacanya dan akan tersusun rapi di lemari buku selama bertahun-tahun. Tidak peduli orang mengatakan itu Novel Best Seller. Kalau tidak bikin penasaran, ya tidak akan di baca sampai selesai.
“Yakin Totto-Chan?” dia tidak bertanya tentang Novel satunya yang lebih dulu sudah aku kepit di siku tangan kiriku.

Penampakan sampul Totto-Chan yang membuat suamiku mengernyitkan dahinya- yaaa itu seperti buku dongeng anak-anak. Aku pun mengangguk sambil melebarkan senyum dengan memamerkan deretan gigiku yang tidak rapi. Aku tetap membelinya.

Totto-Chan tidak segera aku baca setelah sampai rumah. Bahkan sampai hari Reuni Smandarikal Totto-Chan hanya terselip di tas bersama satu novel lain yang sesekali sering aku baca di sela-sela acara reuni. Seorang temanku tiba-tiba mengambil Totto-Chan dari tas, dia tertawa sambil mengacungkan Totto-Chan “Heeey, sudah emak-emak bacaannya masih yang beginian? Cik atulaaah sadar umur” dan yang lain pun ikut menertawakan. Dini with the age about thirty something, masih baca buku anak-anak? Begitulah kira-kira yang mereka tertawakan. Dia menyimpan kembali Totto-Chan di tas tanpa sedikit pun rasa penasaran untuk membacanya.
“Apa benar nasib Totto-Chan akan berakhir tanpa dibaca?” aku mulai meragukan Totto-Chan.

Akhirnya, bab demi bab aku baca Totto-Chan. Tidak ada kata puitis atau pun kata-kata sulit yang spektakuler seperti di Novel lain yang biasa aku baca. Bahasanya sangat sederhana, menjelaskan dengan detail setiap gerakan khas anak-anak dan membuatku sangat iri pada Totto-Chan. Betapa tidak! Sejak Sekolah dasar, Totto-Chan sudah tahu apa yang disukainya, melakukan apa yang disukainya tanpa rasa takut dimarahi orang tua.

Totto-Chan menikmati masa kecilnya di sekolah yang memberikan dia kebebasan melakukan apa yang dia sukai, sekolah yang membangun rasa percaya diri dan membangkitkan harga diri. Aku iri, karena anak-anak di sekolah Totto-Chan tidak mau pulang saat jam pelajaran selesai dan bangun pagi dengan semangat karena ingin segera sampai di sekolah. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat aku menyelesaikan 15 bab dari 63 bab termasuk epilog sejak sekitar dua jam lalu aku memutuskan membaca Totto-Chan. Novel cetakan terbaru oleh Gramedia pada Februari 2016 ini tidak terlalu tebal hanya sampai 271 halaman saja.

Aku tidak percaya. Di tengah kecamuk Perang Pasifik yang saat itu sedang pecah dan Jepang menjadi sasaran utama dengan kisah Nagasaki dan Hiroshima yang melegenda karena dibumi hanguskan bom yang dijatuhkan Amerika, seorang anak kecil bernama Totto-Chan justru memberikan sentuhan lain tentang keceriaan bersama teman-temannya di Tomoe Gakuen sebuah Sekolah Dasar yang dibangun oleh Mr. Kobayashi yang menjadi Kepala Sekolah.

Tomoe Gakuen luput dari pemberitaan berbagai Media, karena Mr. Kobayashi memang tidak menginginkan sekolahnya banyak dipublikasikan. Hal ini untuk menjaga keberadaan Tomoe sebagai sekolah yang nyaman dari incaran musuh. Meski pada akhirnya Tomoe pun ikut terbakar di malam saat saat bom Amerika dijatuhkan di langit Tokyo. Saat itu Totto-Chan sudah duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, yang beberapa hari sebelumnya Totto-Chan berjanji pada Mr. Kobayashi jika sudah besar nanti akan menjadi Guru dan mengajar di Tomoe Gakuen. Totto-Chan tidak lagi ingin jadi pemusik jalanan atau pun balerina seperti saat ia kecil dulu. Bahkan ada juga cita-cita Totto-Chan yang ingin menjadi penjual karcis di stasiun kereta api, mata-mata dan perawat. Tapi janji itu tidak bisa Totto-Chan tepati, karena lokasi Tomoe Gakuen yang sekarang sudah menjadi tempat lain yang bukan sekolah.

Totto-Chan pernah dikeluarkan dari sekolah yang sebelumnya, karena Guru disana tidak sanggup menghadapi sikap Totto-Chan yang ‘nakal’. Totto-Chan sering membuat gaduh di kelas dan mengganggu anak-anak lain yang sedang belajar. Totto-Chan sering berdiri di jendela saat pelajaran dimulai dan memanggil pemusik jalanan untuk bernyanyi di jendela kelasnya. Dan banyak hal lain yang Totto-Chan lakukan sebagai ‘kenakalan’ yang pada akhirnya Totto-Chan dikeluarkan dari sekolahnya yang dulu sebelum akhirnya Mama mendaftarkan Totto-Chan di Tomoe Gakuen. Tentu saja Totto-Chan tidak mengerti kenapa sikapnya dinilai salah.

Di Tomoe Gakuen, setiap anak diberikan kebebasan untuk memulai mata pelajaran yang disukainya. Mr. Kobayashi menerapkan sistem pendidikan konvensional dengan tetap memperhatikan kurikulum pelajaran. Menurut Mr. Kobayashi hal ini bertujuan agar anak-anak memulai hari dengan sesuatu yag amat disukainya. Anak-anak dilatih konsentrasi agar tidak terganggu dengan anak lain saat belajar. Misalnya saja seorang anak yang senang dengan ilmu fisika dan memulai pelajaran pertama dengan fisika tidak akan terganggu dengan anak yang memulai pelajaran pertama dengan menyanyi. Jadi, setiap pagi Guru akan memberikan jadwal mata pelajaran hari itu dan anak-anak boleh memilih yang disukai untuk memulai. Jika ada hal yang tidak dipahami dan membutuhkan bantuan guru maka para guru akan menghampiri anak tersebut dan memberi penjelasan.

Jika disekolah lain orang tua diberi pesan untuk menyiapkan bekal makan siang yang sehat dengan gizi seimbang untuk anak-anaknya, Mr. Kobayashi hanya berpesan agar memberikan makanan “Sesuatu dari Laut dan Sesuatu dari Gunung” yang wajib orang tua berikan pada bekal makan siang anak-anaknya. Dan itu membuat acara makan siang di Tomoe Gakuen sangat menyenangkan.

Sekolah ini terbuka untuk siapa pun. Totto-Chan memiliki teman yang terkena polio atau pun teman yang cebol (pertumbuhan badan terhenti), tapi di Tomoe perbedaan ini menjadi sesuatu yang unik dan membuat setiap anak menghargai perbedaan sebagai sebuah pembelajaran yang berharga. Anak-anak yang kurang beruntung dilatih kepercayaan dirinya, kepala sekolah Mr. Kobayashi yang sudah dianggap teman oleh Totto-Chan menerapkan pelajaran berenang tanpa pakaian sehelai pun, meski beberapa orang tua tidak sepakat tapi anak-anak menyukainya. Dengan berenang tanpa pakaian sehelai pun anak-anak belajar perbedaan fisik mereka, dan yang kurang beruntung dari fisiknya lambat laun tidak malu lagi dengan keadaan dirinya. Meskipun fisik mereka ada yang berbeda, tapi mereka semua percaya bahwa mereka sama : anak-anak.

Setelah bersekolah di Tomoe Gakuen, mungkin Guru sekolah Totto-Chan yang dulu tidak akan percaya melihat Totto-Chan yang sekarang sudah menjadi gadis kecil yang lebih terkontrol emosinya. Jika seorang anak diberikan sentuhan pendidikan orang dewasa yang tepat, maka tidak akan ada lagi anak yang tumbuh dengan rasa tidak percaya diri, ketakutan, minder karena sejak kecil mendapat cap ‘anak nakal’. Padahal Mr. Kobayashi dalam setiap kesempatan hanya mengatakan hal sederhana pada Totto-Chan “kamu anak yang benar-benar baik, dan kamu tahu itu kan?” dan mengatakan “kamu bisa melakukannya” pada Takahashi teman Totto-Chan yang cebol. Mr. Kobayashi percaya setiap anak dilahirkan dengan watak baik, dan tugas orang tua untuk menemukan watak tersebut. Melalui sekolahnya Mr. Kobayashi mengembangkan setiap watak baik anak-anak, sehingga mereka memiliki kepercayaan penuh terhadap dirinya untuk berbuat baik demi masa depannya dan mampu membangkitkan harga dirinya.

Menurut Mr. Kobayashi pendidikan yang baik untuk anak-anak adalah “serahkan mereka kepada alam dan jangan patahkan ambisi mereka”. Oleh karena itu di Tomoe anak-anak dianjurkan memakai pakaian yang paling usang. Jadi tidak masalah jika pulang sekolah pakaian mereka kotor atau bahkan rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Dalam hal ini Totto-Chan sangat beruntung memiliki Mama yang baik, Mama tidak pernah marah kalau Totto-Chan pulang dengan baju kotor dan celana dalam bagian atas belakangnya robek. Sepulang sekolah Totto-Chan sangat senang merangkak di semak-semak yang ada kawat berdurinya, Totto-Chan akan menggali tanah di bawah kawat berduri dan menelusup masuk melalui kawat berduri tersebut, jadi tidak heran kenapa bajunya kotor dan celana dalamnya robek mungkin tersangkut kawat berduri saat merangkak melewati kawat tersebut.

Totto-Chan, adalah salah satu novel yang tidak akan pernah aku sesali karena telah membelinya. Novel ini bercerita tentang karakter khas anak yang berbeda-beda, membuat aku bisa melihat dan merasakan kehidupan dari kaca mata anak-anak. Lebih dari itu, novel ini bisa menjadi tamparan bagi orang dewasa yang terkadang menilai impian diri sendiri untuk anak-anaknya lebih berharga atau lebih baik daripada impian anaknya sendiri. Berikan anak-anak kebebasan melakukan apa yang disukainya. Tugas orang dewasa mengembangkan dan membimbingnya dengan etika dan moral.

Novel ini begitu hidup, terbukti saat mengasuh Tanaya ponakanku yang beberapa bulan lagi berusia 4 tahun, sebelum tidur aku menceritakan Totto-Chan padanya, dia langsung berjingkrak gembira loncat dari kasur dan hilang rasa kantuknya sambil berteriak “Naya punya temen baru namanya Totto-Chan” dan membayangkan bahwa Tanaya pun memiliki rambut panjang yang suka dikepang, berangkat sekolah bersama, belajar bersama. Meski Tanaya menolak dipanggil dengan sebutan Naya-Chan “bukan Naya-Chan, aku mah Teteh Naya.”

Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari Novel Totto-Chan ini. Aku yakin jika banyak orang dewasa membaca Novel ini maka akan banyak pula orang dewasa yang memperlakukan anak-anak sebagai anak-anak dengan dewasa. Sehingga anak-anak merasa keberadaannya diakui, tingkahnya tetap disayangi, keinginannya dihormati, dan prestasi sekecil apa pun dibanggakan orang tua meski dengan baju kotor dan luka baret di tubuhnya yang kadang menjengkelkan orang dewasa tapi masih bisa melihat hal lain yang baik dibalik semua itu.

Aku yakin jika banyak orang dewasa yang membaca Novel Totto-Chan ini, tidak akan ada lagi orang tua yang merasa dirinya paling benar dalam mendidik anaknya dan menyalahkan orang tua lain yang tidak sependapat dengan caranya mendidik anak. Tidak akan ada lagi orang tua yang membandingkan perkembangan anak-anaknya yang berbeda-beda. Karena dia akan paham setiap anak dikaruniai bakat yang berbeda.

Dan aku yakin, novel ini merupakan kisah nyata penulisnya Tetsuko Kuroyanagi yang tidak lain adalah nama asli dari tokoh Totto-Chan, yang menurut cerita waktu kecil Totto-Chan belum bisa menyebut namanya dengan benar sehingga Tetsuko di lidahnya menjadi Totto (hanya keyakinanku saja). Saat ini Tetsuko memandu acara Tetsuko’s Room di salah satu televisi nasional Jepang dan berhasil mewujudkan impiannya mendirikan teater profesional pertama di Jepang. Begitu pun dengan teman-temannya yang lain semasa bersekolah bersama di Tomoe Gakuen, mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Berkat kecintaan Mr. Kobayashi terhadap anak-anak telah mencetak generasi yang selalu percaya pada dirinya, tumbuh dan berkembang dalam keadaan sulit sekali pun.

Terakhir aku juga yakin, jika banyak orang dewasa yang membaca Novel Totto-Chan ini, akan banyak pula orang dewasa yang ingin menjadi Guru karena mengingat masa kanak-kanak yang indah.

Untuk suamiku :
Dear Big Baby, aku telah selesai membaca Novel Totto-Chan. Ada rasa sedih saat membaca kata terakhir dari Novel ini, seperti menyeruput tetesan coklat terakhir setiap aku meminum coklat panas kesukaanku di Tea House. Aku tidak ingin coklatnya habis, aku tidak ingin cerita Totto-Chan berakhir.

4 thoughts on “tentang Totto-Chan

Comments are closed.