Sepotong Roti

Tidak tertutup sempurna, bisa kulihat wajahnya yang manis sangat serius di depan sebuah benda bernama komputer. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10.00 WIB, tak sedikit pun ianya menoleh padaku. Hufth.

Nadia. Aaah sungguh gadis yang menawan, gadis belia yang beranjak dewasa. Aku menebak usianya masih sekitar 25 tahun-an. Suaranya riang saat mengucapkan “Selamat pagi…” pada setiap orang yang ditemui di sepanjang lorong menuju ruang kerjanya. Kalau ditempatkan sebilah papan di punggung kursi pasti tubuh gadis itu membentuk garis sejajar. Tatapan mata yang berbinar-binar dan full of smile. Dengan setelan kemeja putih, rok A-line motif kotak-kotak pink, dan syal abu-abu muda pagi ini membuatnya terlihat sangat segar.

Kring. Suara telepon berbunyi, pasti dari Pak Nata bossnya. Suara telepon itu lebih terdengar seperti alarm huru-hara bagiku. Benarlah tak berapa lama dengan sedikit berlari Nadia masuk ke ruangan di belakang kursinya, entah ini sudah yang keberapa kali Nadia bolak-balik ruangan Pak Nata. Dia meninggalkan mejanya tanpa melihatku. Nadia seorang sekretaris di perusahaan advertising di Jakarta, tapi pekerjaannya tidak seperti yang aku kira.

Coba bayangkan, pagi tadi Nadia datang ke kantor lebih pagi dari karyawan lain, cuma selisih sepersekian detik sama Office Boy. Untuk apa? Bener banget, coy, bikinin kopi dan nyediain roti sandwich buat Pak Nata. Sampai-sampai Nadia sendiri lupa sarapan, what the hell? Setelah semua itu tersaji di meja boss, Nadia membuat teh manis hangat untuk dirinya sendiri. Duduk manis di kursinya, menyalakan komputer dan aku pikir dia akan menolehku. Ternyata tidak.

Tiba-tiba saja seseorang dengan sedikit memekik berlari hampir menubruk meja Nadia “gosssiiiipppp HOT!!!”. Dengan nafas ngos-ngosan dia meneguk teh manis hangat di atas meja dan hanya disisakan sepertiganya, mengatur nafas dan tanpa menunggu Nadia bertanya mulutnya sudah langsung cas cis cus “Lo tau, Nad? Nyonya Besar kebakaran sasak” wajahnya tampak senang melihat ekspresi Nadia yang penasaran. “Sepertinya sebentar lagi Boss Lo yang ganteng bakalan jadi duda…” lanjutnya “Dan sepertinya Nyonya Besar bakal jadiin Lo agen rahasia buat mata-matain lakinya, Lo bakal dipaksa kerja tambahan sampai tahu siapa cewek selingkuhannya.”

Kemudian tak lama, tibalah seorang laki-laki berdada bidang, meski aku hanya melihatnya sedikit dari celah yang terbuka laki-laki ini punya daya pikat yang sangat tinggi. Itu dia Pak Nata, Bossnya Nadia. Wajar saja kalau istrinya kebakaran sasak takut suaminya diambil orang. Ia merupakan jelmaan Keanu Reves. Kedengaran gombal. Bilang saja begitu. Tapi kenyataan memang bicara begitu. Aku mendapati sepasang mata dengan sorot seadem ubin WC. Sejuk. Bikin hati dingin. Itu masih belum cukup. Waktu dia tersenyum ternyata ada dua sumur kecil di pipinya. Hari genee masih ada cowok berlesung pipi. Parahnya ketika dia melempar tawa , Nadia ngedadak pasang muka dlongop gemeteran nggak jelas. Hueeeyyy laki orang, coy! Bolom duda!

Kemudian setelah bossnya datang, seperti yang terlihat sekarang. Ya! Nadia bolak-balik kayak setrikaan keluar masuk ruangan Bossnya. Tapi wajah Nadia nampak happy setiap kali Pak Nata memanggilnya, nggak kawatir betisnya membesar bak talas bogor. Jangan sampai deh gadis manis ini jatuh cinta sama laki orang. Ups! Jangan-jangan cewek selingkuhan Pak Nata ituuu… aaahh kenapa aku jadi kayak Marrie sih, cewek yang tadi grasak-grusuk nyebar gosip.

Waktu menunjukkan pukul 12.05 WIB. Sepertinya tidak ada harapan bagiku untuk dilirik Nadia. Dia sangat sibuk memesan makanan untuk Pak Nata, dan Marrie dari tadi sudah nongkrongin meja Nadia ngajak makan siang bareng. Ruangan ini terasa dingin, tidak ada yang bisa kulakukan. Aku sendirian.

*****
Nadia terlihat sangat sibuk, sepertinya perusahaan ini akan mengadakan hajat besar. Nadia hanya meninggalkan kursinya kurang dari 45 menit saat jam istrirahat. Beberapa kali aku mendengar dia menelepon klien untuk mendapatkan janji ketemu dengan Pak Nata pada sebuah acara yang akan digelar di Bali pekan depan. Kasihan sekali, dia harus berangkat pagi, istirahat sebentar dan aku tidak tahu apa dia makan dengan baik. Seandainya, aku mampu berbuat sesuatu, pun dia melirik padaku apa aku bisa berperan besar baginya?

Waktu semakin berlalu, semesta memamerkan cahaya jingga keperakan, itu artinya sebentar lagi malam akan menyeret siang dari singgasananya. Aku pasrah. Mungkin nasibku hari ini kurang mujur. Dari pagi, siang, sore dan sekarang menjelang malam aku berharap sedikit saja Nadia mengingatku, tapi dia sangat sibuk dengan rentetan pekerjaannya. Ya! Termasuk beban pekerjaan tambahan yang benar sesuai dengan gosip Marrie tadi pagi, Nyonya bersasak besar itu hampir memakan waktu dua jam curhat drama rumah tangganya dengan Pak Nata pada Nadia, menghabiskan ratusan lembaran tissue untuk menyusut air mata dan ingusnya, kemudian dia dekor berserakan di atas meja Nadia dan lantai agar dia terlihat beneran depressi karena takut suaminya diambil orang.

Pukul 20.00 WIB, Pak Nata keluar ruangan dengan senyum yang terpampang diwajahnya “Nad, saya pulang duluan ya…” Nadia berdiri dan tersenyum sambil mengangguk.

“Gokil, satu kerjaan beribu tanggung jawab!” Nadia sedikit merutuk sambil memastikan kalau Pak Nata sudah benar-benar pergi dan tak mendengar rutukannya.

“Emang yeee, gue nih semacam makhluk yang bisa membelah diri. Sekretaris udah pasti, Event Organizer iya, mata-mata iya, layanan curhat juga iya, sampe-sampe bikinin kopi sama roti sandwich juga mesti gue. Lama-lama gue jadi Emaknya, kelamaan gaul sama Pak Nata. Besok-besok apa lagi? Gerbang kantor mesti gue juga yang buka? Emaaakkk save meee”

Aku sedikit senang mendengar Nadia menyerapah Pak Nata hehehe… setidaknya itu menggugurkan dugaanku tadi siang kalooo… Eh, tiba-tiba aku merasakan tangan yang lembut menyentuh tubuhku, Nadia memekik “Ya ampuuun, Mami maafkaan…” Nadia memandangku dengan tatapan menyesal, aku sampai terharu.

Ya! Aku sepotong roti yang dibuatkan Maminya Nadia tadi pagi. Karena terburu-buru berangkat ke kantor Nadia tidak menutup wadahnya dengan rapat, tapi karena itu lah aku bisa melihat gadis semanis Nadia. Aku kedinginan di ruangan ber AC, membuat tubuhku semakin menciut. Meski dari pagi sampai menjelang malam Nadia lupa padaku, aku masih tetap setia menunggunya menyentuhku dan kalau masih layak semoga aku bisa membuat perutnya riang dengan melahapku.

Dan tiba-tiba aku merasakan tubuhku sangat rileks, mataku mengantuk dan semuanya gelap. Aku gembira, karena memang itulah tugasku ada di dunia ini untuk di makan dengan baik oleh manusia. Terima kasih sudah melahapku dengan gembira, Nadia.

Senangnya bermanfaat bagi yang lain.

“Mami, makasih ya rotinya” Ucap Nadia, setelah berhasil menelan sepotong roti yang sudah dingin dan mengering.

#1minggu1cerita