Sekolah VS Pendidikan

Just-Picture

Ibu, mungkin ini yang disebut pelajaran sabar
Aku akan bersabar
Sekalipun harus ku telan pil pahit ini sepanjang hidupku.

Dua ribu lagi dan aku bisa pulang. Maksudku beristirahat. Jam sudah menunjukkan hampir jam 21.00 WIB, setoranku masih Rp 8.000,- harus mencapai Rp 10.000,- baru lah aku terbebas dari awasan mata Bang Goni.

Bang Goni, dia yang selama ini mengurusku. Paling tidak aku menyebutnya begitu “mengurus”. Meskipun aku harus bekerja untuknya dari jam 06.00 s.d 12.00 WIB membereskan, membersihkan rumah dan mengasuh anak-anaknya, lalu jam 15.00 s.d 20.00 WIB bersama anak-anak lain di Terminal Harjamukti Cirebon meminta sepeser rupiah dari orang-orang yang datang dan pergi ke terminal tersebut. Mereka menyebut kami anak jalanan, atau gelandangan bahkan pengemis. Entahlah. Bagiku ini bekerja, karena Bang Goni dan anak-anak yang lain juga bilangnya begitu “bekerja”.

Aku tidak seperti Prita anaknya Bang Goni yang nomor satu, meskipun katanya kita seumuran. Setiap pagi Prita memakai baju Merah Putih, rambutnya disisir rapi, memakai pita dan menenteng tas Hello Kitty yang manis.

Tapi aku diberinya makan dan kadang dibelikan baju baru atau baju-baju yang sudah bosan dipakai anaknya Bang Goni. Itu baiknya Bang Goni. Meski aku pun sangat ingin memakai baju merah putih. Kata Prita, itu seragam sekolah, dan aku bisa bersekolah kalau aku punya uang yang banyak, oleh karena itu aku harus bekerja.

Kata Prita, kami berbeda.

Setiap hari Ibuku mencuci banyak pakaian atau apa pun yang bisa Ibu kerjakan, kadang tidak bekerja karena banyak saingannya. Ibu pergi dari Subuh dan pulang sangat malam. Orang bilang Ibu adalah ‘babu’. Dan karena Ibuku babu, aku anaknya tidak boleh banyak bermimpi apalagi sekolah. Karena babu seperti Ibu tidak akan sanggup membayar biaya sekolah yang mahal. Dan itu aku terima dengan polos, bahwa memang seperti itu adanya tidak ada yang perlu dipertentangkan.

Tadi siang seorang wanita dewasa menghampiriku, kelihatannya dia ‘sok tahu’, aku pikir dia akan berbaik hati memberiku beberapa recehan. Ternyata dia cuma tanya-tanya doang dan banyak omong. Katanya aku harus bersemangat untuk mendapatkan pendidikan, dia bilang soal program-program pemerintah. Aaah! Buang-buang waktuku saja. Bagaimana aku bisa mendapat pendidikan kalau sekolah saja aku tidak sanggup bayar? Ibu aku babu loh! Setelah aku besar, yah aku akan seperti Ibuku. Itu Bang Goni yang bilang dan aku percaya, karena dia yang selama ini berbaik hati padaku memberi aku makan dan uang untuk jajan permen.

Wanita itu sesekali manuliskan sesuatu saat bicara padaku, tapi tulisannya tertinggal dan tentu saja aku tidak dapat membacanya :
Nama : ROSA
Usia : ± 7 atau 8 tahun
Sekolah : –
Hoby : –
Cita-Cita : Pembantu Rumah Tangga

Pendidikan disulap menjadi kegiatan yang sangat sederhana
Menjadi sekolah
Melulu sekolah

Terminal Harjamukti – Cirebon, 2016.

#1minggu1cerita

One thought on “Sekolah VS Pendidikan

Comments are closed.