Rumah Tangga

Pak Min menarik nafas panjang, melepas lelah di bangku kayu halaman rumah. Segelas kopi hitam yang disajikan Bu Isah, membantu mengendurkan otot-otot yang tegang setelah seharian mengojek di pangkalan pasar baru. Penghasilan sebagai Guru Honorer sebuah Madrasah Negeri belum cukup membuat dapur mengepul, ditambah dengan kebutuhan Pendi yang sekarang sudah mulai duduk di Sekolah Dasar. Pak Min memutuskan menggunakan Motor Honda kesayangannya yang baru jalan enam kali cicilan untuk digunakan mengojek sepulang dari madrasah.

“Alhamdulillah Bu, hari ini Bapak dapat Rp. 35.000,-“ kata Pak Min
Bu Isah hanya tersenyum
“Tadi Bapak pake Rp. 5.000,- buat beli nasi rames” lanjut Pak Min “jadi sisinya ada Rp. 30.000,- ibu simpen ya” menyodorkan uang pecahan dua ribu dan lima ribu pada Bu Isah
“Iya Pak, Alhamdulillah. Mudah-mudahan besok rejeki kita bertambah” Bu Isah menerima uang dari suaminya.

“Mandi dulu Pak, bau asem”
“Kan bau asem ini yang bikin Ibu selalu kangen sama Bapak” Pak Min mencolek pinggang Bu Isah

Delapan tahun mengayuh biduk rumah tangga, Pak Min dan Bu Isah bahu membahu memenuhi kebutuhan ekonomi. Kenaikan harga disegala aspek bidang kehidupan membuat mereka harus bekerja ekstra demi kelangsungan hidup keluarga kecilnya.

Untuk membantu suami, setiap pagi Bu Isah berjualan nasi kuning, nasi uduk dan gorengan keliling Komplek Perumahan yang baru saja dibangun oleh seorang investor di samping pemukiman mereka. Hasilnya cukup lumayan, laris manis. Para penghuni Komplek Perumahan baru itu rata-rata para pekerja yang harus berangkat kerja pagi, pun dengan istri-istrinya. Jarang sekali komplek tersebut ramai di siang hari, penghuninya pergi pagi dan pulang saat senja bahkan malam. Jadi sangat tepat jika Bu Isah menjual nasi kuning pada mereka, karena biasanya orang-orang Komplek tersebut tidak sempat menyiapkan sarapan.

Kehadiran Bu Isah banyak dinanti warga Komplek setiap pagi, dan ini menguntungkan. Bukan hanya itu Bu Isah pun menerima pesanan menu sarapan selain nasi kuning dan nasi uduk. Jika ada warga Komplek yang bosan dengan menu yang itu-itu saja setiap hari, Bu Isah tidak keberatan jika harus membuatkan menu yang berbeda, asalkan dipesan sehari sebelumnya karena terkait dengan bahan makanan yang harus disiapkan.

“Pendi kemana Bu?” tanya Pak Min
“Kayanya dari tadi siang, Pendi sibuk dengan tugas sekolahnya Pak” sebenarnya Bu Isah tidak yakin

Seharian tadi sepulang sekolah, Pendi sangat serius dengan buku gambarnya. Sesekali keluar kamar meneliti setiap sudut rumah kontrakan mereka. Waktu ditanya apa yang sedang ia lakukan, Pendi hanya menjawab pendek.

“Lagi ada proyek, Bu” mengekor jawaban Bu Isah kalau lagi dapat pesanan nasi banyak dari ibu-ibu Komplek. Mungkin Pendi memang ada tugas dari sekolahnya. Tapi sudah sesore ini, Bu Isah lupa kalau Pendi masih sibuk berkutat di kamar.

Ditengoknya Pendi ke kamar. Dan, WOW! Berantakkan sekali kamar Pendi, selain banyak kertas berserakan di lantai, tembok kamar pun sudah tak putih lagi. Hasil kreasi tangan Pendi memenuhi tembok putih yang mengelilingi kamar berukuran 2 x 1 meter itu. Tenggorokan Bu Isah tercekat sebelum beberapa kalimat hendak keluar. Nasi sudah menjadi bubur, Bu Isah dan Pak Min harus memutar otak mencari uang tambahan untuk membersihkan tembok yang sudah dipenuhi gambar garis-garis abstrak oleh Pendi. Kalau tidak, pemilik rumah ini bisa pingsan lihat tembok dengan gambar abstrak ciptaan Pendi.

“Pendi cape Bu, tapi Pendi pengen jadi orang kaya” rengeknya
Bu Isah dan Pak Min tidak mengerti.
“Maksud mu apa Pen?” tanya Bu Isah, sambil menggendong Pendi ke atas pangkuannya
“Teman-teman sekolah Pendi, rumahnya bagus-bagus Bu”
“Lalu, rumah kita kurang bagus?”
“Rumah teman-teman Pendi, tinggi-tinggi Bu”
“Yang penting kan Pendi punya rumah, tidak kehujanan atau kepanasan”
“Tapi Pendi pengen punya rumah yang tinggi kaya teman-teman” suaranya meninggi hampir terisak
Bu Isah menarik nafas panjang, mengelus rambut Pendi.
“Tadi Pendi sudah coba bikin gambarnya buat dikasih liat ke Bapak, tapi Pendi cape dan gak ada gambar yang bagus” lanjut Pendi

Itu lah sebabnya banyak sekali kertas-kertas berserakan di kamar ini, dengan banyak coretan. Dan setelah kertasnya habis rupanya Pendi pindah lapak ke tembok. Pak Min memperhatikan lamat-lamat gambar Pendi yang nyaris sulit dipahami. Hanya garis-garis kotak dan panjang yang terlihat menghiasi setiap kertas.

“Rumah teman-teman Pendi kaya di Mesjid deket Pom Bensin itu Pak, ada tangganya.”

Keesokan paginya, Pendi mogok sekolah. Dia bersikeras ingin punya rumah seperti teman-temannya.

“Pendi sekolah ya, hari Minggu besok Bapak janji akan buat rumah yang tinggi buat Pendi”

Terlihat senyum cerah Pendi “Benar ya Pak?”
Pak Min mengangguk “Ayo, jagoan Bapak tidak boleh terlambat berangkat sekolah”
“Bapak gak boleh janji sembarangan sama anak” bisik Bu Isah, hatinya ketar-ketir, jangankan bangun rumah buat ganti cat kamar Pendi saja belum tau uangnya dari mana.
“Tenang saja Bu” Pak Min mengedipkan mata

Hari Minggu yang dinantikan, Pendi sudah bangun pagi sekali. Ia bersemangat dengan proyek rumah impian, dilihat Bapaknya sibuk bongkar-bongkar gudang mengeluarkan beberapa kayu dan papan. Hampir 5 jam Pak Min sibuk dengan belahan kayu dan papan, dan tampak Pendi di teras rumah ketiduran. Keinginan jagoannya sangat menyentuh hati Pak Min, terngiang kembali kata-kata Pendi beberapa hari lalu “Pendi cape Bu, tapi Pendi pengen jadi orang kaya”. Kata cape disini bukan beban hidup maksudnya, karena anak seusia Pendi belum mengerti hitam dan merahnya kehidupan. Dia hanya kecapean membuat gambar yang ingin dia perlihatkan pada Bapaknya.

Lain hal nya jika orang dewasa yang berkata seperti itu, mungkin bisa saja artinya lelah mengahadapi beban kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidupnya berkecukupan materi? Pengertian “Kaya” dalam benak Pendi sangat sederhana, orang kaya adalah orang yang rumahnya bertingkat.

Pendi terbangun, mengucek-ngucek mata dan mencari Pak Min yang sebelum tertidur terlihat sibuk di halaman. Matanya menangkap bangunan kotak persegi terbuat dari kayu dan papan di atas pohon mangga depan rumah mereka, ada tangga yang berdiri tegak bersama batang pohonnya.

“Bapaaak…” Pendi berteriak
“Ada apa Pen?” Bu Isah tergopoh mendengar teriakan Pendi “Bapak mu sedang mandi” lanjut Bu Isah
“Itu apa Bu?”
“Itu kan loteng yang dijanjikan Bapak buat Pendi”

Pendi menatap bangunan kotak kecil berbentuk rumah yang terbuat dari kayu dan papan, atapnya ditutup dengan seng dan dilengkapi dengan tangga yang terbuat dari kayu pula.

“Gimana rumahnya, Pen?” tiba-tiba Pak Min sudah berada di halaman
“Bagus Pak, itu rumah Pendi kan?”
Pak Min mengangguk
“Horeee…akhirnya Pendi punya rumah yang ada tangganya”

Pendi berlari menaiki tangga menuju rumah kecil di atas pohon.

*Rumah Tangga = Rumah dengan Tangga
Sekian.