Resensi Tragedi Kartini

RA-Kartini

Sebuah Pertarungan Ideologi

Ukuran buku ini kecil, semasa SMA aku bungah membawanya di saku baju seragam dan memperlihatkan kepada teman-teman untuk membacanya. Tebalnya hanya 1 cm saja. Tidak memakan banyak waktu untuk membacanya.

Seperti apa sebenarnya wujud emansipasi yang selalu diidentikan dengan R.A Kartini? Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya ”Door Duisternis Tot Licht” (dari kegelapan menuju cahaya).

Satu hal yang paling aku sukai dari tulisan di buku ini, sebelum R.A Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir beliau sedang belajar membaca Al-Quran. Kartini menyukai satu kalimat yang sering beliau ucapkan : Minadzulumati Illannur (Q.S Al-Baqarah : 257), artinya Menuju Cahaya. Yang terlanjur diartikan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane. Kegelapan itu sifatnya plural (jahiliyah) sementara cahaya sifatnya tunggal (Allah SWT).

Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar sepi, hari ini banyak diperingati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita Barat. Kartini bertekad memenuhi panggilan Q.S Al-Baqarah : 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam yang selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Agama Islam patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Kartini berjuang agar anak perempuan mendapatkan pengajaran dan pendidikan, bukan untuk menjadi saingan laik-laki. Tapi Kartini yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi Ibu, madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Ini gagasan Kartini yang sebenarnya, namun sering diartikan secara sempit dengan satu kata : emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.

Saat itu Kartini baru belajar Al-Quran sampai pada Q.S Al-Baqarah. Aku jadi berandai-andai, andai saja pada saat itu Kartini sudah belajar Al-Quran sampai Q.S An-Nisaa tidak menutup kemungkinan beliau pun akan mengenakan baju kebesaran seorang Muslimah.

Jadi, siapakah Kartini masa kini? Seorang wanita yang meneruskan cita-cita Kartini yang meyakini dan mengikuti panggilan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya.

Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang selalu rindu akan Ilmu Pengetahuan. Aamiiin.

2 thoughts on “Resensi Tragedi Kartini

  1. Kartini berjuang agar anak perempuan mendapatkan pengajaran dan pendidikan, bukan untuk menjadi saingan laik-laki. Tapi Kartini yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi Ibu, madrasah pertama bagi anak-anaknya.

    Super sekali :)

Comments are closed.