MONOLOG

Aku terdiam, memaksa menunduk. Melihat lebih dalam, dan menerima segala kekacauan yang telah aku perbuat. Karena lupa.

Bekerja bukan lah sarana untuk takabur. Aku berperang dengan diri sendiri untuk melepaskan belenggu takut pada dunia dan bergantung pada uang. Pernah, aku merasa lelah karena mengikuti omongan agar mengumpulkan uang yang banyak dengan bekerja. Demi mengukir prestasi.

“Kamu harus ngumpulin uang yang banyak, gimana nanti kalau suamimu meninggal? Mau makan apa? Perempuan harus pinter nyari uang!”

Rasanya telingaku memanas saat mendengarnya. Bukan membayangkan bagaimana jika suamiku meninggal, tapi seolah ada yang menonjok dadaku hingga sesak sampai ke pelupuk mata. Merasa ada yang kurang sreg dengan kalimat tersebut. Dan masih banyak hal lain yang aku dengar tentang kehebatan uang, tapi hatiku menjerit, tidak terima. Belakangan aku tahu dari status teman-teman di Facebook, itu adalah kata-kata musyrik. Alhamdulillah, hatiku tidak meng-Aamiiin-i-nya.

Terima kasih untuk teman-temanku yang selalu sharing status nasihat dan ilmu, jangan pernah berhenti. Ada orang seperti aku yang butuh banyak nasihat dan dangkal sekali ilmunya. Meski seringkali tidak merespon statusmu, percaya lah nasihat dan ilmu yang kau bagikan adalah hadiah untuk saudaramu.

Sebagai pelayan, uang bisa kita andalkan. Tapi, sebagai majikan uang adalah alat kejahatan. Bahkan uang mampu mengantarkan bisikan setan untuk memecah belah yang terikat batin, antara ibu dan anak. Apalagi hal lain yang ikatannya tidak sekuat batin.

Dan, kenyataannya uang tidak pernah membuatku merasa cukup. Aku seorang wanita yang bekerja di luar rumah. Aku lelah melakukan pekerjaan, karena seringkali tidak memandangnya sebagai ibadah. Aku lelah mengumpulkan uang, karena sebanyak apa pun tidak pernah mampu membeli semua keinginanku. Bahkan prestasi itu sendiri pun tak mampu aku raih. Aku berhenti mendengarkan omongannya, tidak masalah aku tidak berprestasi.

Aku belajar memahami, bekerja adalah ibadah dan tidak melulu cari uang. Rejeki tidak hanya uang, karena uang adalah bagian kecil dari rejeki.

Sudut paling kecil dalam hati mengajakku berdamai. Kecil, namun mampu menyelimuti gigil hatiku. Hangat, seperti pelukkan Mamah yang selalu mengajari aku tentang hidup bahagia bukan tentang mengejar uang untuk kesenangan sesaat. Dan, Mamah yang selalu mengajari aku meraih impian dengan meluruskan niat, bukan uang. Kebahagiaan anak adalah prestasi untuk orang tuanya dan itu lah prestasi yang sesungguhnya. Maka, aku memilih untuk bahagia.

“Tugasmu hanya ikhtiar, Din. Hasil adalah hak AKU.”
“Tugasmu hanya ikhtiar, Din. Semua masalahmu, AKU yang selesaikan.”
“Tugasmu hanya ikhtiar, Din. Segala solusi dan jalan keluar sudah AKU sediakan.”
“Apa pun yang kamu inginkan, AKU punya dan AKU bisa berikan padamu.”
“Kamu tidak perlu susah hati, datanglah kepadaKU.”
“Kamu hanya perlu sabar, yakin dan percaya padaKU.”

Saat kita meninggalkan dunia, itu lah saat dimana kita menerima Allah SWT menyentuh hati kita dan saat kita menerima Allah SWT menyentuh kehidupan kita.

Wahai, Dzat yang menggenggam setiap hati manusia, hanya Engkau yang mampu meneguhkan hati pada RahmatMu. Karena Engkau lah yang Maha Kaya. Maka, masukkan lah kami ke dalam golongan orang-orang yang selalu Engkau beri petunjuk. Aamiiin.

Cirebon, 16 September 2017
Dini Lestari.

2 thoughts on “MONOLOG

  1. Facing the truth..berada di lingkungan yg mendewakan uang tdk prnh membuat bahagia,tentram aplg bersyukur..seringkali mlh menyengsarakan..membuat prasangka buruk dll..bekerja lah dgn ikhlas,kelak semua ada balasan setimpal..krn bgmnapun bekerja adlh kewajiban dan kesenangan yg sbnrnya bisa dijadikan ladang pahala..semoga kamu,aku dan mereka bs menghargai waktu,uang,ikatan batin dll dan tdk prnh didekatkan dgn sifat buruk akibatnya..aamin

Comments are closed.