Mengenang Sejarah Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945

Just-Picture

Cerita ini saya tulis sebagai kenangan pribadi betapa melongonya saya mendengar salah satu Sejarah Cirebon sebagai saksi Kemerdekaan Republik Indonesia. HAP! sekarang mulut saya sudah mingkem, sebelum lupa dan agar saya tidak melupakan Sejarah penting ini, maka saya cepat-cepat menuliskannya.

Sekurang-kurangnya 4 tahun 4 bulan, secara administrasi saya tercatat sebagai penduduk Kabupaten Cirebon. Ya ,sejak menikah dengan laki-laki keturunan Kota Wali ini, agar tidak di grebek Pak RT dan hansip malam-malam berduaan, saya pun tidak hanya mengubah status tidak kawin di KTP tapi juga alamat domisili.

Hari ini, Senin 15 Agustus 2016 sebagai warga Cirebon saya pun ikut mengenang Sejarah Pembacaan Teks Proklamasi pertama kali oleh Dr. Soedarsono Kepala Rumah Sakit Kesambi Cirebon (sekarang Rumah Sakit Daerah Gunung Jati Cirebon). Pada hari itu 15 Agustus 1945, 71 tahun yang lalu Dr. Soedarsono yang tergabung dalam kelompok muda, adalah orang pertama yang membacakan Teks Proklamasi yang ditulis oleh Sutan Sjahrir sebanyak 300 kata. Karena berbagai polemik yang terjadi pada masa itu dan kekhawatiran kembalinya Belanda menjajah, kelompok muda ini ingin segera memproklamirkan kemerdekaan bangsanya setelah Jepang kalah oleh Amerika. Pembacaan Teks Proklamasi ini dihadiri oleh sekitar 150 orang pada masa itu.

Pembacaan Teks Proklamasi dilangsungkan pada sore hari di alun-alun Kejaksan jantung Kota Cirebon dengan ditandai sebuah tugu berwarna putih berbentuk pensil setinggi kurang lebih 600 meter (sekarang depan Masjid Agung At-Taqwa Cirebon). Tugu tersebut sering saya lewati saat naik angkot GM jurusan Gunung Sari – Mundu kalau mau ke Grage Mall dari kantor saya di Jl. Yos Sudarso atau bahkan duduk-duduk santai sambil lahap ngemil cakue di sekitar tugu saat Car Free Day pada hari Minggu. Tapi jujur! baru beberapa hari lalu saya tahu monument penting tersebut bernama Tugu Proklamasi dengan segala sejarahnya. Baru deh hari Minggu Kemarin 14 Agustus 2016 saat Car Free Day saya mengambil foto Tugu untuk kepentingan tulisan ini (tapi gambarnya belum bisa saya tampilkan, karena kesalahan teknis.. hiks..). Padahal kisah kasih saya dengan Kakang Prabu Diyan Malik 2009 lalu bermula dari tempat bersejarah tersebut, bahkan saya masih ingat matanya yang jail curi-curi padang pada saya kikikikik. Egois banget yeee.. berasa itu monument saksi cinta kite berdua hahaha.. *PLAK* bapeeerrr

Peristiwa tersebut diberi nama Proklamasi Cirebon. Ini lah Cirebon, saksi pertama berdirinya Republik Indonesia yang luput dari buku-buku pelajaran sejarah sekolah, alasannya kenapa? Saya pun tidak tahu.

Cerita selanjutnya baru bisa kita baca di buku pelajaran sekolah, saat kelompok muda di bawah komando Sutan Sjahrir menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, kemudian membacakan Teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pengangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat jam 10 pagi dengan Teks Proklamasi yang diketik ulang oleh Sayuti Melik. Dan Kemerdekaan Republik Indonesia disiarkan ke seluruh Rakyat Indonesia.

Tidak banyak yang saya tahu tentang Cirebon. Tentang Kota Wali, kita semua tentu tidak asing dengan sejarah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sampai hari ini, budaya yang ditinggalkan masih terasa sangat kental di masyarakat Cirebon.

Tentang wacana Provinsi Cirebon, yang diusung sejak puluhan tahun lalu ‘mungkin’ dan mulai ramai dibicarakan kembali dalam lima tahun ini, pun tentu sudah tidak asing lagi. Jika kita berkunjung ke Bandara Cakrabhuwana Penggung Cirebon, yang terletak di Cirebon Selatan sepanjang jalan besar yang menghubungkan Cirebon dengan Kuningan dan tidak jauh dari Pintu Tol Palikanci, di halaman depan menghadap jalan raya kita akan melihat salah satu gapura kecil bertuliskan “Provinsi Cirebon Harga Mati”. Tulisan tersebut sudah ada sejak lama dan terpampang jelas sekalipun kita berada dalam kendaraan yang sedang berjalan. Generasi muda sekarang mungkin tidak banyak yang tahu menegenai tulisan tersebut karena diukir dengan Aksara Jawa atau dikenal dengan ejaan Hanacaraka atau Carakan.

Hal lainnya yang sudah mulai dikenal dari Cirebon adalah kuliner. Sejak diresmikan Tol Cikapali Oleh Presiden RI Joko Widodo pada 13 Juni 2015 lalu, banyak sekali mobil bernomor polisi Ibu Kota atau pun Kota Kembang yang sengaja datang ke Cirebon hanya untuk menikmati makan siang dengan nasi jamblang atau empal gentong, yang tentunya destinasi terakhir yang banyak tidak dilewatkan pengunjung adalah memborong batik khas Cirebon yaitu Batik Trusmi.

Dan masih banyak lagi cerita tentang Cirebon, yang tentunya tidak kalah keren dari tempat wisata lainnya di dalam maupun luar negeri. Berbangga lah Warga Cirebon karena tempat kelahirannya kaya akan nilai-nilai sejarah. Cirebon merupakan bagian penting dari sejarah berdirinya Republik Indonesia bahkan Sejarah di mata dunia.

Selamat Datang Di Cirebon. Kota yang sekarang tidak hanya kaya akan sejarah tapi sudah mulai ramai dan macet saat liburan tiba karena banyak destinasi yang bisa kita kunjungi, termasuk tempat-tempat oke untuk selfie.

Salam JASMERAH.

One thought on “Mengenang Sejarah Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945

Comments are closed.