Kisahku Kasihmu, seperti “aaaaaarrrggghhh”

My Big Baby In Action
My Big Baby In Action

Menerobos jalanan pagi ini nyaris tanpa rem. Sudah seminggu panggilan istriku di telepon tampak semrawut. Kenaikan Tarif Dasar Listrik yang menambah beban biaya bulanan, tagihan iuran sampah dan guyub di RT, tagihan air meluber karena belum sempat memperbaiki toren rumah yang bocor dan masih banyak yang lainnya. Aku paham istriku hanya bercerita, meski nada ceritanya lebih terdengar seperti orasi demo di depan kantor DPR. Dan sudah kuduga ujung-ujungnya istriku bilang “sepertinya sepatu kerjaku sudah harus diganti.”

Dua hari ini panggilan teleponnya terdengar parau
“perutku sakit, hun”
“banyak kerjaan di kantor, aku lupa makan. Demam.”
“cepet pulang, hun”

Aku meninggalkan beberapa pekerjaan kantor hari ini, panggilan telepon istriku terdengar lebih horor dibanding teriakan Boss di kantor. Semasa pacaran, dia wanita yang tangguh. Bahkan mampu mengerjakan sesuatu yang harusnya dikerjakan laki-laki. Dia mandiri dalam banyak hal. Tak pernah kulewati senyumnya dalam keadaan sulit sekali pun. Tidak ada tuntutan.

Mungkin ini lah yang kebanyakan orang bijak bilang ‘Cinta’. Ketika dalam pernikahan cinta itu harus banyak maklum. Aku membuka pintu rumah, istriku menyambut dengan girang. Aroma luluran dan sabun mandinya tercium menyegarkan. Tidak seperti dalam bayanganku, bahwa aku akan mendapati ianya terbaring di kasur dan belum mandi.

“Kamu baik-baik saja?”
“Kalo PMS (pra-menstruasi), satu jam juga udah sembuh”
“Oh…”

Segelas air dingin dan buah-buahan disodorkannya padaku, cukuplah untuk meredakan sport jantung beberapa hari ini. Kekhawatiran ku lenyap, bagaimana pun aku melihatnya begitu segar, ia bernyanyi dan begitu bahagia melihat kedatanganku. Dan sudah siap dengan berbagai cerita yang belum sempat ia ceritakan di telepon. Ya istriku hoby sekali bercerita.

Dari setiap celoteh ceritanya aku menangkap banyak hal yang membuatku terenyuh dan terharu sekaligus bangga padanya. Kami tidak bisa hidup se atap setiap hari setelah kami menikah. Dia sering sendirian menahan bosan di rumah, tidak banyak keluar rumah selain berangkat ke kantor karena menjaga kehormatan suaminya. Dia tidak malu menunjukkan padaku betapa dia butuh tempat bermanja. Dia butuh aku. Dia banyak membantuku mengingatkan kewajibanku sebagai seorang suami. Dan bukan tuntutan.

Kali ini aku melihatnya lebih tangguh dari sebelum kami menikah. Karena dia membiarkan aku sangat berarti dalam hidupnya dengan membiarkanku mengerjakan apa yang seharusnya laki-laki kerjakan. Sekali pun istriku mampu mengerjakannya dengan baik.