Kata Ibu, Nikah Itu : Menepuk Dada

Ibu akan memeluk saat kusodorkan tangan untuk menyalaminya, mencium pipi kanan dan kiri, menempelkan hidungnya dihidungku sambil memegang erat kepalaku, dan terakhir mengusap kepala sambil membisikkan doa, alhasil kerudung yang sudah rapi jali menyon kanan kiri lagi, hehehe. Tapi, itu bagian yang selalu aku ingat. Hanya Ibu, yang memiliki sambutan se-sakral itu.

Dia adalah wanita yang membesarkan Mamahku, meski tidak melahirkannya. Ya, seharusnya aku memanggil beliau dengan sebutan Nenek. Berawal dari rambut kedua Nenekku yang sudah memutih, baik Nenek dari Mamah atau pun Bapak. Aku yang waktu itu masih sangat kecil memiliki kekhawatiran, kalau orang rambutnya sudah beruban akan cepet tua, tidak bisa diajakkin main, tidak bisa bacain dongeng, dan sakit-sakitan. Itu pikiran anak kecil. Sejak saat itu, karena rambut kedua Nenekku sudah memutih, untuk mencegah Nenekku yang ketiga menua, aku pikir sebutan Ibu bisa membuatnya tidak beruban.

Benar, aku punya 3 Nenek. Nenek yang melahirkan Mamahku, Nenek yang melahirkan Bapakku dan Ibu, Nenek yang merawat Mamahku.

“Perempuan itu tidak perlu pusing memikirkan apakah laki-laki yang akan menikahinya adalah laki-laki yang dicintainya atau bukan,” kata Ibu dengan santai.
Tentu saja sebagai wanita yang baru saja meninggalkan masa remaja, aku tidak sepakat.
“Yang penting laki-laki itu mencintaimu” kata Ibu lagi, sambil menepuk dadaku yang lagi tiduran disampingnya sambil baca buku.
“Itu kan jamannya Ibu…” jawabku sambil manyun dan meneruskan membaca, Ibu hanya terkekeh mendengar jawabanku.

Itu obrolan jauh sebelum aku bertemu dengan suami. Meski saat itu aku tidak sepakat, tapi sejak hari pertama menjalani pernikahan, aku mengamini kata-kata Ibu. Wanita yang diambil dari keluarganya, seperti burung pipit kecil yang terbang di hari yang panas melintasi garis matahari, jauh dari sangkarnya yang menghangatkan. Cinta suami lah yang akan menghangatkannya, memberinya kenyamanan dan rasa aman. Membuat wanita menjadi lengkap.

Seorang wanita yang dijadikan Istri akan mengikuti bagaimana cara suami mendidik dan membimbing dengan cintanya. Dengan kasih dan sayangnya. Dan, seorang wanita yang dijadikan Istri akan menjaga kehormatan dan menutupi kekurangan bahkan aib suaminya.

“Kamu harus bisa membangun rumah tanggamu dengan ini…” kata-katanya terhenti, Ibu menepuk dadaku sambil berurai air mata, saat berpamitan beberapa hari setelah pernikahanku.
“Luaskan hatimu jika ada orang ke tiga yang masuk ke rumahmu tanpa permisi, karena dia tidak selalu berwujud wanita cantik yang menggoda iman suamimu. Kamu butuh ini (menepuk dadaku), seperti kamu menjaga keharmonisan dalam rumah, kamu pun harus mampu menghargai bagaimana orang lain membangun keharmonisan dalam rumahnya. Jaga santunmu untuk tidak masuk ke dalam rumah orang lain tanpa permisi, sekali pun itu rumah Teteh.”

Perubahan status sebagai seorang Istri, membuatnya perlu melihatku sebagai wanita dewasa. Bukan cucu kecilnya lagi yang sering merengek karena manja. Ibu menepuk dadaku, hingga terasa ke jantung. Aku melihat kekhawatiran dan kebanggaan dimatanya sebagai bentuk rasa syukur.

Aku masih bisa merasakan Ibu menepuk dadaku. Ya Ibu, menikah adalah Ibadah yang paling panjang. Ujiannya menguras prasangka, aku tidak mampu menakarnya dengan nalar. Cinta tidak melulu soal gelak tawa dan canda, terkadang cinta menuntut kita tersenyum saat hati menahan kepedihan. Ya Ibu, hanya hati yang kuat yang mampu memahami.

Bahkan ketika perjuangan seorang wanita sebagai istri diludahi, hanya hati yang luas yang mampu menampung semua pedih itu menjadi kekuatan. Pun ketika seorang wanita sebagai istri dielukan dan dipuja, hanya hati yang luas yang mampu menerimanya dengan santun.

Ibu, aku jadi latah. Setiap kali aku bahagia atau pun sedih, aku menepuk-nepuk sendiri dadaku. Agar aku tetap istighfar saat berbahagia, dan tetap bersyukur saat bersedih. Aku memiliki keyakinan ada doa yang Ibu panjatkan saat menepuk dadaku, agar hatiku tetap tenang menghadapi segala ujian baik yang datang dalam bentuk kebahagiaan, pun ujian yang datang dalam bentuk kepedihan.

Ibu, sehat dan bahagia selalu ya. Do’amu, aku memeliharanya disini (menepuk dada). Suatu hari nanti, aku akan menepuk dada seseorang untuk meneruskan do’amu.

Cirebon, 14 Oktober 2017
Dini Lestari