Dia Dia Dia

1
“aku berani bertaruh, kau tidak akan bisa memberikan komitmen yang pasti”
Dua laki-laki berbadan tegap saling berhadapan, memandang mata satu sama lain, tidak ada kata-kata lagi, angin pun membawa mereka pergi ke arah yang berlawanan.

2
Jam menunjukkan jam 9 malam, tanggal 25 Agustus 2012 ketika aku baru saja tiba di kostan oemah coklat (bahasa Cirebon yang artinya rumah berwarna cokelat), hari ini cukup melelahkan. Udara Kota Cirebon yang sangat panas belum membuatku beradaptasi dengan baik. Ya, baru 1 minggu ini aku di pindah kerja ke Kota Cirebon dari kantor lama ku di daerah Ciawi Bogor yang udaranya lumayan sejuk, soal pekerjaan sih tidak terlalu membebani, teman-teman baruku disini sangat membantu aku, apalagi soal dialek bahasa Cirebon yang khas dengan akhiran Tah dan Jeh nya…hehe..tapiiii panas nya ini loooh bikin selera senyumku pasang surut.

Kulihat dari kejauhan sebelum becak ku sampai depan gerbang kostan, halaman kostan masih tampak ramai.
“ hey Rey baru pulang?ikut jalan yux…”
Oh rupanya itu Vita, lagi ada teman-temannya, Vita ini satu-satu nya temen cewek ku di kostan oemah coklat, bangunan dengan lima kamar itu dihuni oleh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan termasuk aku.
“hmmm…badanku masih bau acem Ta” dengan sedikit ku manyun kan bibirku
“hahaha…baiklaaah…lo istirahat aja deh”
Vita ini asli orang Jakarta makanya kalo ngomong pake Lo Gue ^^ wajahnya yang cantik selalu membuatnya terlihat tersenyum…
“oh iya Rey…kenalin ini Adjie temen gue, yang kemaren gue cerita..”
Aku menoleh dan mengulurkan tangan, sambil melempar senyum tentunya biar ga keliatan banget juteknya aku hari ini karena gak tahan panas.
Adjie yang sudah duduk di atas motornya pun mengulurkan tangannya, tapi heeeyy dia memalingkan wajahnya, aku sampai memutar penasaran dengan wajah dibalik helm itu, dia tersenyum kecil dan tersipu, agak geli rasanya aku ingin tertawa, baru kali ini aku kenalan sama cowok tapi dia memalingkan wajahnya dengan senyum kecil. Dan tentu aku tidak mengerti kenapa Adjie memalingkan mukanya sambil tersipu.

3
Namaku Rainda, tapi orang-orang sering memanggilku dengan singkat R E Y, katanya biar gampang, padahal orang rumah ku memanggilku dengan sebutan Rai (diambil dari kata rayi bahasa sunda yang artinya adik). Aku asli orang sunda, kedua orang tuaku berasal dari Bandung, aku lahir di Bandung, sekolah di Bandung, apa-apa di Bandung, semuanya di Bandung, gak pernah turun gunung. Baru setelah lulus kuliah saja aku melanglang buana ke kota orang.

Aku bungsu dari dua bersaudara, kakaku perempuan namanya Miranda, jadi Rainda itu artinya adik dari Miranda. Kita Cuma beda satu tahun tanggal lahirku dan tanggal lahir kakakku sama hanya beda tahunnya saja. Ibu bilang aku ini anak hasil kecolongan. Ups! xixixi.
“Miranda dan Rainda ini anak kembar, cuma beda beberapa jam saja, Miranda lahir 2 Mei 1984 dan Rainda lahir 2 Mei 1985, itung ajah berapa jam bedanya..hehehe”
Itu kelakar Ibu, waktu kecil kita berdua suka didandanin sama, mulai dari baju, pita, jepit rambut, bando sampe jam dan sandal ato sepatu kami. Banyak yang tanya “anak nya kembar ya bu?” berhubung tatanan rambut kami pun selalu sama, namanya adik dan kakak pasti ada miripnya, jadi lengkap lah kembar ciptaan ibu ku ini, hehe.

4
Ada 3 mised call, aku baru saja selesai mandi, Giand.
Giand adalah tunanganku, setidaknya sampai hari ini aku dan Giand masih bertunangan. Aku sangat menyayanginya terlebih ketika tau sejak SMA dia sudah menyukaiku, hanya saja dia pendiam dan baru setahun kemarin dia berani menyatakan cintanya padaku, dan meminangku. Dia belum pernah punya pacar, karena katanya dia cuma suka sama aku..WOW..tersanjung juga. Sehingga aku menilai Giand Cowok paling payah tentang pengalamanya dengan Cewek..hehehe…ngapain ajaaah #tepokjidat. Tapi aku sangat berbangga disayangi laki-laki seperti Giand.

Kami bertemu lagi saat acara reuni sekolah Ibu jaman kuliah, dulu namanya SPG (Sekolah pendidikan Guru), Ibu adalah Kepala Sekolah di SMA Negeri yang ada di Bandung. Waktu itu aku baru saja lulus kuliah, lagi gak ada kerjaan jadi ikut Ayah jemput Ibu di hotel Horison daerah Buah Batu, Ayah masuk ke dalam gedung hotel, dan aku memilih menunggu di parkiran, karena kata Ayah acara reuni nya sudah selesai, disanalah dengan tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Giand, kakak kelasku semasa SMA.

“Inda…lagi apa disini?” Inda memang panggilan aku oleh teman-teman SMA ku
Itu sapaan pertamanya yang aku ingat, aku mengingatnya karena tiba-tiba ada laki-laki berbadan tegap menyapaku dan membuat aku berpikir ‘nih orang siapa?’
“Hey apa kabar?lupa yah?” mungkin karena dia melihat wajahku yang melongo, menerka-nerka siapa orang yang memanggilku. Ya sejak SMA memang aku tidak begitu mengenalnya, aku yang terkenal sering di marahi Guru karena membandel dan dimusuhi kakak kelas karena menurut mereka aku centil, membuat aku tidak pernah memperhatikan orang-orang pendiam disekitarku. Tapi aku selalu juara kelas loooh meskipun sering dijewer Guru…hehehe…nyombong dikit ga apa lah.

“Giand..” dia mengulurkan tangannya, ohohoho aku ingat Giand ini kan juara bertahan olimpiade Fisika tingkat nasional yang selalu membawa harum nama sekolah kami, siapa yang gak tau Giand, namanya selalu disebut saat pengumuman Upacara Bendera tiap hari Senin, wiiiihhhh beda banget dia sama waktu SMA, dulu dia kurus kerempeng, kulitnya agak item..hehehe…tapi hari itu dia memakai kaos dengan ditutupi kemeja kotak-kotak, kancing kemejanya dibiarkan terbuka dan lengannya di linting ke atas, bawahnya pake celana jeans dan sepatu kets, lumayan juga.

Sejak hari itu kami bertukar no HP dan ternyata Ibu dan Ibu nya Giand dulu satu sekolahan juga. Dan sampai detik ini Giand adalah tunanganku.

5
Giand selalu membuatku bersemangat, rasanya kalo ada Giand semua duka bakalan sirna…ciyeee… Semalam aku menelpon balik Giand, selalu dia memanggilku “apa kabar wanitaku?”
Tapi hubunganku dengan Giand belakangan ini sedang kurang baik, bukan kami yang ada masalah kami baik-baik saja, kami selalu berjuang, tapi keluarga kami sepertinya memerlukan diskusi yang sangat panjang mengenai hubungan kami ke depan. Sempat ada kata tidak enak dari Neneknya Giand saat acara pinangan Giand padaku. Keluraga Giand dan keluargaku masih sangat kolot, sehingga acara-acara sakral seperti itu masih memerlukan sentuhan sesepuh.

Nenek ku yang notabene masih keturunan Keraton Kuningan (Arya Kamuning, Kuningan-Jawa Barat) sontak mengangkat dagunya karena ucapan Nenek Giand yang dulunya keturunan Wedana, sang Putri mengeluarkan taringnya, mereka beradu pendapat, meskipun keduanya menggunakan bahasa yang sangat halus dan berwibawa tapi perdebatan mereka mengiris hati kami. Aku dan Giand. Pembicaraan mereka merembet sampai ke adat istiadat, sampai ke kami keturunan siapa dan anda keturunan siapa, Nenek Giand tidak suka dengan aku yang bekerja di salah satu BUMN di Bogor, menurutnya wanita harus di rumah, wanita bekerja bisa ngelunjak suami pada akhirnya nanti, apalagi aku jauh dari Bandung. Sementara keluargaku yang sudah lama menganut paham demokrasi dan menginginkan semuanya berkreasi, tidak masalah apakah perempuan harus di rumah atau kah perempuan ingin bekerja. Hanya saja cara bicara Nenek Giand dan nada nya yang memaksa dengan raut muka yg kurang bersahabat, membuat Nenek ku mengeluarkan ego Putrinya.

Acara pinangan hari itu kehilangan khidmatnya, karena setelah hari itu Nenek Giand tidak mau bertemu dengan ku, juga Nenek ku memintaku untuk memikirkan kembali hubungan kami. Sejak hari itu keluarga Giand pun terasa dingin terhadapku. Aku sedih. Kehangatan keluarga kami tiba-tiba luntur begitu saja.
“Rai akan banyak makan ati kalau menjadi bagian dari keluarga mereka” itu kata nenek ku, dia mengelus rambutku, dan aku hanya diam
“sing bagja cucu nenek, inget pesen kakek anak perempuan keluarga ini harus menjadi perempuan-perempuan yang tangguh, harus meryayi.” bagja itu artinya kebahagiaan, kesejahteraan dan kekayaan dari bahasa Sunda.

Bagiku tidak masalah kalau aku harus berhenti bekerja, setidaknya setelah aku menikah dengan Giand, yang tanggalnya saja masih simpang siur. Sebelum aku menikah dengan Giand aku sangat ingin menikmati masa-masa mudaku dengan mencoba bekerja. Giand yang saat itu sudah menjadi Pemimpin Bidang di sebuah Departemen milik Pemerintah penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk kami berdua, bahkan jika ada anak tiga sekali pun, di tambah dengan usaha mendiang Ayahnya yang diturunkan untuknya, soal materi kami merasa berlebih. Giand adalah anak laki-laki yang dibanggakan di keluarga besar nya. Sehingga tantangan ku sangat besar masuk ke dalam keluarganya. Tapi ternyata itikad baikku tidak disambut baik keluarga Giand, mereka katanya sudah terlanjur kecewa karena perdebatan Nenek ku yang tidak mau kalah “terserah..” itu jawaban mereka.
Aku menjadi ragu dengan hubungan kami kedepannya akan berjalan mulus, terlebih ketika Ayah dan Ibu meminta aku untuk mundur teratur dari hubungan kami, tak menyangka aku ketika Ayah dan Ibu pun berkata seperti itu, tapi Giand selalu meyakinkan aku. Kita Bisa.
“kita yang menjalani hubungan ini, kita yang tau, kita yang rasa, bukan mereka”
Aku menangis dalam pelukannya saat itu, masih tak percaya ini semua terjadi, setelah pertemuan kami di parkiran Hotel Horison waktu itu semuanya tampak baik-baik saja, menyenangkan malah, tapi setelah hari itu dunia ku seolah berputar suram dan sepi. Aku dan Giand sudah seperti Romeo dan Juliet. Iiiish.

“Keluargamu sekarang dingin Giand, sudah beberapa hari aku tak berhasil ngobrol sama Ibumu, Ibu gak balas sms aku, telpon aku pun tak pernah di angkat ”
“keluargamu juga sudah tidak menerima aku” Giand menimpali
Enam bulan lamanya hubungan kami menggantung tanpa putusan, apakah akan maju atau kah harus diakhiri saja. Aku pun tak mengerti sampai detik ini meski Giand selalu menghiburku, dia berusaha meyakinkan aku, menguatkan aku tapi Giand belum memberiku komitmen apa pun untuk hubungan kami ke depan. Dia tidak memberi kepastian.

6
Pagi ini aku tidak melihat satu pun mamang becak nongkrong depan kostan, aku pun memutuskan berjalan kaki sampai depan untuk mencari angkot. Angkot pun tampak sepi pagi ini, angkot dengan jurusan kantorku belum satu pun yang lewat. Dan tiba-tiba sebuah motor menghampiriku
“ayo naik…”
Aku kaget, aku berfikir ini laki-laki iseng yang mau ngerjain aku atooo tukang ojek, tapi pakaian nya rapi. Dia membuka helmnya dan tersenyum
“aku Adjie, temen Vita, yang tadi malem”
Oooh Adjie, aku tersenyum, sekarang wajahnya lebih jelas terlihat, dia tidak memalingkan muka lagi…xixixi…
“aku sengaja bawa helm 2 pagi ini, buat kamu”
“eh…kenapa?”
“aku yang suruh mamang becak langgananmu cuti pagi ini…hehehe, arah kantor mu sama dengan arah kantorku”
Aku diam dan tak menimpali, tak peduli dia tau dari mana kantor tempat aku bekerja, sudah siang dan aku harus cepat sampai kantor, jadi tebengan motornya aku terima sajah.

Selama perjalanan menuju kantor Adjie tidak berbicara apa pun, begitu juga dengan aku. Kami terdiam, sampai akhirnya tiba depan kantorku
“makasih ya djie”
“oke..nanti sore aku jemput”
“eh…”
Sebelum melongo ku hilang Adjie sudah pergi dari pandanganku, “nanti sore aku jemput” hmmmm, aku tidak ingin terlalu memikir kan nya…yeah kalo ketemu.

Aku sudah siap bekerja. Dan aku selalu siap bekerja. Memutuskan bekerja adalah pilihanku sendiri, jadi aku selalu menjalaninya dengan suka cita.

7
“mba Rey ada yang nyari di depan, kalo udah beres ditunggu depan warung mimi” Pak Raharjo satpam kantorku memberi tahu
“siapa pa?”
“temennya mba..udah janjian katanya”
“oh makasih…”

Temen???janjian???
Temanku di Cirebon belum banyak, Vita, temen kostan dan temen kantor…aku tak ada janji dengan mereka.

Ketika pekerjaan ku sudah selesai aku pun langsung ke warung mimi depan kantor, ada Adjie disana, dia memberikan helm kepadaku tanpa bicara apa pun. Aku bingung, ini orang kenapa yaaahhh…tapi aku terima juga helm nya dan aku naik juga di atas motor nya. Sama seperti tadi pagi, tidak ada obrolan.

Tapi heeey…dia tidak mengantarku pulang ke kostan
“kita mau kemana djie?”
“makan..” jawabnya singkat
“aku biasa pesen bibi di kostan..”
“aku udah bilang sama bibi, malam ini kamu makan di luar sama aku”
“kapan bilangnya?”
“tadi pagi sambil kasih uang cuti buat mamang becak langgananmu”
“kamu serius soal mamang becak itu?”
“hehehe…” Adjie Cuma ketawa

Kami makan steak di Jl. Moh. Toha malam itu, letaknya di pusat Kota Cirebon, rame juga yah Cirebon kalo malam, sejak seminggu di Cirebon aku memang belum pernah jalan-jalan kemana pun selain kantor dan kostan ku. Kata Adjie ini steak paling enak di Cirebon, steak yang dia suka lebih tepatnya. Tempatnya cukup nyaman, di buat lesehan dari panggung-panggung bamboo, rasa steak nya pun lumayan enak, meskipun tidak lebih enak dari steak kesukaan ku di daerah Setiabudi Bandung…hehehe.

“vita melarangku deketin kamu” kata Adjie membuka pembicaraan
“loh kenapa?”
“katanya kamu sudah punya tunangan”
“hehehe…oh itu, gapapa kalee temen laki-laki aku juga banyak, Giand gak keberatan”
“namanya Giand?”
“yup..”
“satu lagi kenapa Vita larang aku deketin kamu”
“apa?”
“nanti kamu cinta sama aku, dan ninggalin tunangan kamu”
“hahahaha…ngaco kamu”
Adjie tersenyum “kamu lucu kalo ketawa”
“itu udah bakat djie…bawaan dari lahir”

Ternyata Adjie tidak seperti yang kuduga, aku pikir dia pendiam, bisa juga dia berceloteh..ringan tapi tidak norak.
Adjie mengantar ku pulang ke kostan, malam ini cukup menyenangkan, berbeda dari biasanya.
“Rainda malam ini kita makan berdua, nanti kita makan sama keluarga kita yah…”
“apalagi nih djie?” aku ketawa geli
“selamat malam Rainda, kalo nanti Solat Isya jangan lupa doain kita yah”
“makasih Adjie..” aku tersenyum tanpa menimpali ucapannya

Hanya Adjie yang memanggilku dengan lengkap Rainda.

8
“kamu dimana” suara Adjie di telepon
Jum’at kemarin sepulang kantor aku langsung pulang ke Bandung, lumayan weekend 2 hari sama Ayah, Ibu dan janjian ketemu Giand tentunya. Baru lah Minggu siang aku balik lagi ke Cirebon.
Adjie, Vita dan teman-teman mereka yang lain ngajak aku main ke laut Kejawanan Cirebon, katanya laut itu terkenal di Cirebon. Aku jadi akrab dengan mereka karena mereka sering main ke kostan.
“aku baru masuk tugu selamat datang Cirebon Djie”
“oke ditunggu”
“kayanya gak akan sempet djie, kalian main laaah, gak usah nunggu aku”
Aku merasa gak enak kalo ditungguin, kalo sempet ya aku ikut main…kalo nggak, ya udah.

Sekitar jam 5 sore aku baru nyampe kostan, dan tiba-tiba Adjie sudah ada di halaman kostan ku.
“cape?”
“hey…lumayan”
“tadi anak-anak maen ke laut, kamu ditinggal”
“iya djie gapapa..”
“aku pulang duluan, karena kamu pasti udah nyampe kostan”
“yang lain kemana?”
“masih di laut”
“tapi kayanya…kalo ke laut jam segini, akuuuu…”
“gak ada yang ngajak kamu ke laut ko..”
“terus kamu ngapain kesini?” aku manyun
“kamu kalo manyun kaya kucing di Film Sheeerrk, hahaha”
Enak ajah aku disamain kaya kucing
“nemenin kamu, kalo kamu mau aku mau ngajak kamu jalan-jalan liat seluruh Cirebon dalam 1 Jam”
“hmmm…baiklah, aku pengen tau gimana caranya kamu liatin seluruh Cirebon dalam 1 jam ke aku”

9
Menara At-Taqwa 1 November 2012
Aku takjub melihat kota Cirebon dari atas menara At-Taqwa, Menara At-Taqwa ini berada di Masjid Agung At-Taqwa di Kota Cirebon, letaknya di pusat kota. Kita bisa lihat pemandangan kota Cirebon dari atas menara, indah sekali. Aku merasa terbang di atas awan, seolah lepas semua beban dari pundakku dibawa angin Cirebon sore itu, aku menyukainya.
“aku senang liat kamu terlihat ceria” kata Adjie
“memang selama ini aku terlihat bermuram durja?”
“tidak juga”
Menara At-Taqwa ditutup tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang
“bagaimana kota Cirebon dalam 1 Jam?”
Aku tersenyum
“aku akui kamu benar, sudah mengajakku keliling Cirebon dalam 1 Jam”

Sejak perkenalanku dengan Adjie, Cirebon tidak lagi menjadi asing buatku, Adjie dan teman-temannya selalu mengajakku kalo mereka mau jalan, atau hanya aku berdua dengan Adjie. Adjie selalu menemani aku makan malam, menjemputku pulang kantor, karena kantor kami berdekatan. Bahkan pernah kami kehujanan dan ban motor Adjie bocor di tengah jalan, hari sudah mulai gelap saat itu dan kami harus mendorong motor karena tidak ada perumahan di daerah tersebut, hanya ada pesawahan dan kebun-kebun tebu milik para penduduk, daerah itu adalah daerah kawasan pabrik gula PT. PG. Rajawali, pabrik gula terbesar di Cirebon tepatnya di daerah Sindang Laut, makanya disekitarnya banyak sekali kebun-kebun tebu.
Kami basah kuyup sampai ketemu tambal ban. Tambal ban milik sepasang suami istri paruh baya, mereka sangat ramah, menyuguhi kami ubi jalar dan teh manis hangat, badan kami menjadi lebih hangat.
“aku akan beli mobil Rainda, biar besok kamu dan anak-anak tidak akan kehujanan”
Kata-katanya terdengar samar karena tertelan suara hujan dan geluduk, namun aku masih bisa mencerna kata demi kata nya, seperti biasa aku hanya tersenyum.

Menurutku Adjie ini senang bercanda, jadi apa pun yang dikatakannya tidak membuatku terusik, apalagi aku sudah yakin bagaimana pun keadaan nya aku akan tetap bersama Giandku. Dan tentunya Adjie pun tahu pertunanganku dengan Giand. Entah kenapa Adjie ini seperti orang yang sudah lama aku kenal, sehingga aku tak sungkan menceritakan peliknya hubunganku dengan Giand, bahkan pernah aku menangis depan Adjie saat aku cerita tentang Giand dan Adjie saat itu tersenyum sambil berkata
“hari ini aku memang belum ingin menikahimu, ngga tau kalo besok”
“hahaha…” aku jadi tertawa mendenngarnya

10
Aku mengambil cuti satu minggu dan pulang ke Bandung, ada yang ingin Ayah bicarakan denganku. Sudah bisa ku tebak pasti soal hubunganku dengan Giand. Sebenarnya aku sangat tidak ingin mendengarnya, panas kepala ini karena aku ingin tetap memaksakan hubungan ini, meskipun kedua keluarga kami tidak sejalan. Yang menikah kan aku sama Giand. Kalian hanya tinggal support dan mendoakan kami. Cukup.
“kenapa Ayah gak coba ngobrol lagi sama Ibu nya Giand yah?” aku merajuk
“Rai laki-laki itu tugas nya mengejar, kita di pihak perempuan, dan tugas kamu adalah menerima, Ayah tidak ingin melukai hati kamu, tapi Giand juga tidak memastikan hubungan kalian”
Ibu yang baru datang di ruang keluarga sambil bawa teh untuk kami mencoba menenangkan aku, “Ayah benar Rai..kamu tidak pantas terus-terusan menunggu”
Aku terdiam tak punya kata-kata
“Rai masih ingat sama Oom Pri? Temen Ayah waktu tugas di Solo?” Ayah ku dulu bekerja di Perusahaan Listrik Negara, dan sering pindah-pindah kota, tapi Ibu, aku dan Kak Miranda tetap tinggal di Bandung karena Ibu juga bekerja. Sekarang Ayah sudah pensiun dan ingin melihatku segera menikah.
“besok Oom Pri ke Bandung, mau lihat vilanya di Setia Budi yang sudah lama tidak terurus, dan mau mampir ke rumah kita, Oom Pri datang sama Fadly anaknya, Rai jangan kemana-mana yah”
Aku hanya mengangguk dan ijin pergi ke kamar untuk istirahat.

Hand phone ku berbunyi, saat mataku mulai mengantuk. Adjie. Aku senang sekali dan langsung ku jawab teleponnya. Entah kenapa ada yang membuatku selalu gembira kalo ada Adjie, sepertinya hatiku selalu melonjak-lonjak riang kaya anak kecil dibeliin mainan baru.
“Rainda kamu tidak bilang-bilang kalau cuti”
“Ayah pengen ngobrol sama aku, jadi aku memutuskan untuk ambil cuti..”
Aku menjelaskan, padahal sebenarnya tidak dijelaskan pun tak apa, toh Adjie bukan siapa-siapa.
“Aku juga cuti dan sekarang udah di Bandung, rumah kamu dimana?”
“haaahhh…seriusan?”
“iyaaa…aku mau maen ke rumah kamu”
“rumahku susah di temukan…hehehe…coba saja, rumah ku di Kopo Endah”

11
Sudah malam, jam 8 malam. Bibi mengetuk pintu kamarku
“neng..neng Rai ada tamu”
“siapa Bi?”
“henteu kenal neng” henteu itu artinya tidak dalam bahasa Sunda
Giand? Dia baru saja telepon dan tidak berencana ke rumahku, sejak hari itu memang Giand pun jarang main ke rumah karena sungkan bertemu Ayah sama Ibu.

ADJIE. Oh My God. Dia serius dong. Dan duduk dengan cueknya di ruang tamu rumahku.
“hey…nyampe juga di rumahku”
“soalnya kamu bilang rumahmu sulit ditemukan, kalo aku gak datang, berarti aku orang yang mudah menyerah”

Adjie tidak lama di rumah ku, katanya ada urusan penting harus dia selesaikan malam ini juga. Dia harus ketemu seseorang.
Perempuan kah? Tiba-tiba pikiranku menebak-nebak, mungkin Adjie punya pacar di Bandung, aku agak gelisah dan merasa jadi tidak istimewa ketika Adjie bilang ada urusan penting. Eh tunggu kenapa aku berpikir seperti itu?

“siapa Rai?”
“Oh itu Adjie Bu, temen Rai dari Cirebon”
“kamu gak pernah cerita soal Adjie sama Ibu”
“itu loh bu yang Rai pernah bilang temen Rai ngajakin jalan-jalan keliling Cirebon dalam 1 Jam”
“ooh namanya Adjie, kamu keliatannya seneng dek” kadang ibu suka memanggilku adek
“ah Ibu, Rai biasa aja deh”
“nggak biasa juga ngga apa-apa” sambil terus godain aku

Yah aku memang senang saat Adjie datang dan kemudian gelisah saat Adjie buru-buru pulang karena ada urusan penting.

12
Terdengar suara bapak-bapak tertawa menggelegar dari ruang tamu, itu Ayah dan Oom Priyo temannya dari Solo. Sudah datang rupanya. Hari itu Kak Miranda dan ponakan perempuanku pun datang ke rumah, aku sangat sayang pada Billa ponakanku, dia menggemaskan dan selalu tersenyum jenaka, meskipun isi kamarku sering dia buat acak kadut…dia keluarkan semua isi dalam tas ku, aku tidak pernah keberatan, liat dia main dan tertawa sambil lari-lari sangat menghiburku.

“Rainda..” Ayah memanggilku
Aku segera menemui Ayah di ruang tamu
“kenalkan ini Oom Priyo teman Ayah dari Solo, dan Fadly anaknya Oom Priyo” Ayah menunjuk seorang lelaki berwajah cerah dan santun di kursi bersebelahan dengan Oom Priyo, aku menyalami Oom Priyo dan Fadly.
“Keluarga Oom Priyo dulu suka nolongin Ayah, apalagi kalo Ayah tak punya teman nasi di rumah”
HAHAHA mereka tertawa khas bapak-bapak. Aku tersenyum
“cantik kamu nduk..” nduk itu panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa, Oom Priyo tersenyum melihatku
Fadly anaknya Oom Priyo hanya menunduk.

“Usia Fadly hanya beda satu tahun darimu, anaknya santun, dia pintar Lulusan ITB dan sekarang dia bekerja di perusahaan Kimia Analyst di Bogor” Ayah bercerita setelah Oom priyo dan Fadly meninggalkan rumah kami.

Yeah aku setuju dengan Ayah, Fadly sangat santun, air mukanya cerah dan terlihat sangat cerdas.
“Ayah dan Ibu sudah setuju kalo Oom Priyo ingin meminang kamu untuk Fadly”
“Ayaah…” aku berteriak kaget, tidak percaya kalo kunjungan Oom Priyo tadi adalah untuk membicarakan perjodohan aku dengan Fadly.
“Ayah mengerti Rai, tapi mau sampai kapan kamu nunggu Giand?” Ayah memandangiku dengan tegas “Ayah sudah semakin tua, Ayah tidak punya keinginan lain selain menikah kan kamu dengan laki-laki yang bisa gantiin Ayah jagain kamu, kamu pikir baik-baik Rai”

13
Aku bercerita soal kedatangan Oom Priyo dan Fadly ke Giand, maksudku agar Giand segera memberi kepastian, datang ke rumah Ayahku dan memastikan kami akan segera menikah. Giand hanya diam. Aku semakin gelisah.
“tadi malam ada seseorang datang menemuiku”
“siapa?”
“Adjie, katanya dia temanmu dari Cirebon”
“Adjie? Kamu serius? Ngapain Adjie nemuin kamu?”
“Dia hanya bilang akan menikahimu, karena kamu lebih bahagia dengannya, karena aku sampai saat ini belum memberi kepastian untuk hubungan kita” nada bicara Giand sangat datar
“lalu kamu jawab apa Giand?” aku serasa gila mendengar Adjie nemuin Giand
“dia tampaknya sangat sayang kamu Inda…”
“Laluuuu???” aku tak sabar
“pilihannya hanya dua, kamu menikah lebih dulu dari aku, atau…kamu menikah denganku tanpa keluarga kita”
“maksud kamu apa Giand?”
“kita akan menikah dan pergi dari kota ini, ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang mengenal kita”
“kawin lari maksudmu Giand?”
“ada cara lain?”
“Gila kamu Giand!”
Aku masih waras, dan tak mungkin kawin lari. Aku mendambakan pernikahan yang khidmat dan sakral, pernikahan yang agung untuk sekali dalam hidupku. Lemas rasanya sendi-sendi ototku..tapi tak ku duga pula kalo Adjie semalam menemui Giand dan bilang akan menikahiku? Huuuffthhh, kegilaan apa lagi ini..semalam? Adjie buru-buru pulang dari rumah ku karena ada urusan penting yang harus selesai malam itu juga dan akan menemui seseorang, ini kah urusan pentingnya? Giand kah orang yang Adjie maksud untuk dia temui? Aku membenamkan kepalaku di bawah bantal…berharap ketika aku buka bantalnya, hidupku kembali normal.

14
Kali ini Cirebon membuat ku rada kikuk setelah kejadian beberapa hari lalu, aku tidak tau apa yang harus aku katakan kalau ketemu Adjie, sejak malam Adjie ke rumahku dia tidak menelponku lagi. Aku tidak tahu apa sebabnya. Sebenarnya aku mencarinya, menunggu dia meneleponku, ingin dia menjelaskan kenapa dia menemui Giand, tapi dia sama sekali tidak menghubungiku dan aku gengsi menghubungi duluan.

Kedatangan Oom Priyo dan Fadly pun sampai di telinga keluarga Giand, dan menurut mereka ini adalah cacat keluarga ku yang tidak termaafkan “Rainda adalah wanita dalam pinangan, sangat tidak terhormat mengijinkan laki-laki lain meminang wanita yang sudah di pinang”
Aaaahhh entahlah bisa gila kalau aku terus terusan memikirkan masalah ini, aku bukan putri keraton dengan aliran feodal yang harus sumuhun dawuh, itu Nenek ku pada masa nya, aku ini wanita masa kini yang bebas dan merdeka menentukan jalan hidupku, dan yang aku inginkan saat ini bertemu dengan Adjie, dan Adjie harus menjelaskan pertemuannya dengan Giand.

Sudah satu minggu aku kembali ke Cirebon, Adjie tidak pernah mengunjungiku, tidak menjemputku pulang kantor, tidak menemaniku makan malam dan tidak menghubungiku
“Ta..tumben gank lo ga pada nongkrong disini?” aku bertanya pada Vita, maksudku pada akhirnya aku akan mengarahkan pembicaraan ini ke pertanyaan Adjie dimana?
“lagi pada sibuk kayanya” kata Vita dengan terus memainkan game dari laptopnya
“padahal rame kalo mereka maen kesini”
“Gue lagi males maen” tandas Vita yang nampak lagi bête
“kerjaan Lo gimana Ta?”
“sumpek gue…pengen resign dan balik ke Jakarta”
Nampaknya Vita lagi susah di ajak ngobrol, nampak bête, jadi daripada aku kena semprot, lebih baik aku segera pergi dari kamarnya
“gue ke kamar dulu deh”
Vita gak peduli.

Aku mencoba melupakan semua yang sudah terjadi, maksudku untuk sementara ini, menenangkan diri, melupakan hubunganku dengan Giand, pertemuanku dengan Adjie dan kedatangan Fadly ke rumah. Biarin deh aku yakin pasti ada jalan keluarnya.

15
Giand, Adjie dan Fadly. Ada tiga laki-laki yang masuk dalam kehidupanku di usia ku yang sudah hampir kepala 3, sudah waktunya menikah kata Ayah, karena teman-temanku yang lain sudah menikah dan punya anak. Tiga laki-laki tersebut tidak lantas membuatku merasa menjadi Ratu Kecantikan karena diperebutkan, yang ada aku hampir gila karenanya…ingin rasanya aku menghilang. Mereka semua hebat dimataku, Giand yang berwibawa, Adjie yang misterius, dan Fadly yang santun. Semoga malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak, selamat malam Giand, selamat malam Adjie, selamat malam juga Fadly.
***
“mba Rey dapet surat nih..” kata mang Yaya becak langgananku
“dari siapa?”
“itu temen nya Mba Rey sama Mba Vita yang suka bawa motor”
Adjie. Ada yang melonjak dari hatiku, aku yakin itu surat dari Adjie.
“mana mang..sinih” tak sabar aku ingin membukanya
Aku buka perlahan, isinya hanya kertas kecil bertuliskan, nanti malam kamu pasti datang ke rumahku, karena aku ulang tahun. Adjie.
Tau dari mana aku rumah Adjie. Tapi Adjie ulang tahun dan dia mengundangku, aku menganggap secarik kertas itu undangan ulang tahunnya. Tapi kenapa dia tidak menelponku saja. Ini kan jamannya tekhnologi gak perlu pake surat-suratan. Yeah gimana ntar malem deh, Vita juga pastikan ke rumah Adjie aku ikut bareng anak-anak ajah, gampang toh.

16
Jam 8 malam, 23 Desember 2012
Aku tidak melihat Vita di kamarnya, waduh…gimana aku bisa ke rumah Adjie, aku mencoba menelepon Vita, tapi tidak di angkat, mungkin Vita dan teman-teman yang lain sudah lebih dulu ke rumah Adjie. Maafin aku yah Adjie gak bisa datang ke rumah kamu. “Selamat ulang tahun Adjie, semoga segala kebaikan selalu menyertai hidupmu”. Aku mengirimkan pesan singkat.

“Mba Rey ayo berangkat..”tiba-tiba mang Yaya ada depan kostan ku
“mau kemana mang?” aku heran
“tadi mas Adjie titip pesan untuk anterin Mba rey ke rumah Mas Adjie”
Haaaahhhh Adjie nyuruh mang Yaya anterin aku ke rumahnya, emang rumah Adjie dimana?dekat kah? Kalo jauh kan kasian Mang Yaya cape kayuh becaknya.
“kapan Adjie nyuruh Mang Yaya anter aku?emang Rumah nya Adjie deket mang?”
“barusan Mas Adjie datang ke rumah, tapi langsung pergi lagi katanya mau beli Pizza sama eskrim pesanan Mba Rey”
Aku gak pesen Pizza sama Eskrim, tapi dua makanan itu kesukaan aku bangeeettt
“ayo Mba Rey, tenang saja rumah Mas Adjie deket dari sini, dan ongkos becaknya sudah lunas”
Adjie juga sudah bayar ongkos becaknya. Mungkin karena Vita dan yang lain sudah di rumah Adjie lebih dulu jadi dia tau aku gak ada kendaraan.

“kita sudah sampai di rumah Mas Adjie mba”
Rumah nya cukup luas, berwarna krem perpaduan dengan cokelat, ada mobil Honda City terparkir di garasi halaman rumahnya, di dalam kelihatannya nampak rame, yaah mungkin Adjie mengundang banyak teman-temannya, tapi aku heran jaman sekarang masih ada orang yang merayakan ulang tahunnya di rumah, biasanya kumpul-kumpul di café atau menyewa vila, tapi Adjie di rumah.
Dan rumah sebesar ini tidak ada bel…waduh aku ketuk pintu juga gak akan kedengeran di dalam nampak rame, atau aku telpon Vita yah biar dia keluar, atau sekalian saja telpon Adjie tuan rumahnya.

Belum sempat aku menelpon siapa pun, Adjie tiba-tiba sudah di depan pintu
“kenapa diam saja disitu?ayo masuk nanti eskrimnya keburu cair..”
Aku lega dan tersenyum, setelah beberapa detik lalu terlihat dlongop depan rumah orang.
Banyak orang di dalam rumah, tapiii…heeey mana Vita dan teman-teman yang lain?
“Djie Vita dan yang lain mana?”
“gak tau tuh udah beberapa hari memang gak ketemuan”
“mereka gak kesini?”
“ngapain?”
“ulang tahun kamu lah”
“duh kaya anak kecil ajah ngerayain ulang tahun, ini cuma kumpul keluarga aja” dan aku melongo
Ya..di rumah Adjie selain ada Ibunya juga ada kakaknya, lengkap dengan Pade, Bude, Oom,Tante, sepupu dan keponakannya.
“Siapa Djie?” Seorang perempuan seusia Ibu dengan wajah sangat mirip Adjie menghampiri kami
“ini bu yang namanya Rainda, calon isteri Adjie, ini Ibu ku Rainda” aku melonjak kaget sebelum aku mencium tangan Ibu nya Adjie, dan aku tersipu, calon isteri?semena-mena saja kamu bilang-bilang aku calon isteri kamu, nembak aku aja nggak. Beberapa hari kemarin kemana? Ngilang begitu saja tanpa kabar, dan sekarang tiba-tiba bilang aku calon isteri kamu depan ibu kamu, hellloooo…
“akhirnya Rainda main kesini juga, selama ini Ibu cuma denger ceritanya dari Adjie”
Aku menoleh ke Adjie, “memang Adjie cerita apa aja bu?”
“katanya Rainda ini punya kumis dan suka makan kucing”
“haah Adjie bilang begitu?”masih tetep yaaa aku disamain kayak kucing, dan Adjie cuek saja.
“ternyata Rainda cantik, sama sekali gak kaya kucing di film sheerk” Ibu ketawa
“makasih bu”
“ayo dimakan eskrim dan Pizza nya, itu khusus Adjie beliin buat Rainda”

17
Hatiku dag dig dug setelah kejadian malam itu di rumah Adjie, ternyata tidak ada perayaan ulang tahun, hanya kebetulan saja keluarga besar Adjie sedang ngumpul pas hari ulang tahunnya, kata Adjie dengan atau tanpa kumpulnya keluarga besarnya aku akan tetap datang ke rumahnya. Dan dia bersyukur karena pada moment itu keluarga besarnya sedang berkumpul
“jadi pengumuman aku sudah punya calon isteri tidak perlu berkali-kali, cukup satu kali, karena mereka semua sudah ada disini”
Aku diam saja, tidak mengomentari kenapa dia mengenalkan aku sebagai calon isterinya, tidak mengatakan “iya atau tidak”, sepintas aku merasa senang, karena akhirnya aku bertemu kembali dengan Adjie…setelah beberapa hari aku menunggu dia menghubungiku, heeey senang? Tapiii aku dikenalkan sebagai calon isteri? Ini akan jadi masalah lagi.
“pelan-pelan saja Rainda, aku yakin kamu akan jadi isteriku”
Aku tidak tau harus menjawab apa, sama sekali aku tidak ingin menolaknya, dan aku pun tak sanggup mengatakan “ya aku bersedia”
“kalo kamu setuju, aku sama Ibu akan datang ke rumahmu, melamar Rainda”
Whaaattt???lamaran lagi? Akan ada laki-laki ketiga yang melamarku, Adjie. Dia menatap mataku dengan tajam, mencari jawaban.
“hahaha…jangan takut Rainda, aku tidak akan memakan kamu, aku tidak suka makan kucing”
Hush enak saja, aku bukan kucing.
“okey…jawaban kamu pasti iya, tapi mungkin tidak secepat ini aku melamarmu”
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku, seperti tersihir saja aku mematung karena kata-katanya, lebih menegangkan daripada naik tornado di Dufan, ada rasa senang, khawatir, takut bercampur aduk. Aku tidak bisa berfikir.

18
Keluarga Oom Priyo akan datang lagi ke rumah, Ibu memintaku untuk pulang akhir pekan ini, Fadly memang sempat menghubungiku lewat sms beberapa kali, tidak ada yang istimewa dari sms nya, standar saja
“apa kabar Rai?”
“lagi apa?”
“udah makan?”
“jangan lupa solat ya”

“Ibu masih ingat Adjie yang waktu itu datang ke rumah?”
“iya dek, kenapa?”
“Rai gak tau dia serius atau tidak, dia ajak Rai ke rumahnya dan kenalin Rai sebagai calon istrinya”
“iya, terus?” Ibu tidak tampak kaget
“dan dia bilang kalo aku setuju dia akan datang ke rumah dan melamar Rai”
“lalu?”
“koo ibu biasa aja c?”
“Adjie sudah telepon ke rumah Rai, dan dia sudah ceritakan semua ke Ibu semua yang tadi Rai ceritakan, termasuk dia temuin Giand”
Haaaaahhhhhh…tau dari mana ini orang telepon rumahku???bicara dengan ibu pula tanpa sepengetahuan aku
“itu yang namanya laki-laki Rai, mengejar, sekarang semua keputusan ada di Rai, Ayah dan Ibu yakin kamu sudah cukup dewasa memikirkan masa depan kamu, kamu sudah 27 tahun sebentar lagi 28 tahun, hampir mau kepala 3 umurmu dek, gak kepengen kaya temen-temen gendong anaknya?”

Adjie selalu di luar dugaan, Ayah dan Ibu ternyata sudah tau soal Adjie, Adjie sendiri yang mengenalkan dirinya pada Ayah dan Ibu, tinggal menunggu jawaban “Ya” dari aku maka Adjie akan melamarku. Ayah dan Ibu pun tidak keberatan. Serius donk dia, semua yang dia katakan selama ini yang aku anggap hanya bercanda, ternyata itu serius. Entah kenapa tidak ada sedikit pun rasa kecewa dihatiku, saat Adjie benar-benar serius dengan ucapannya, kecewa karena selama ini aku menganggap hubungan kita sangat mengasyikan sebagai teman.

19
“pada dasarnya kami menerima silaturahmi keluarga Kang Mas Priyo karena putri kami Rainda, tapi keputusan permintaan Kang Mas Priyo agar anak-anak kita bisa menjalin hubungan, kita sebagai orang tua harus bijak, biarlah mereka yang menentukan”
Itu jawaban Ayah yang sangat diplomatis, dia tetap menghargai keputusanku. Ayah memandang aku, dan meminta aku untuk menjawab.
“Saya tidak bisa menjawab malam ini, ini terlau mendadak buat saya, Lagipula sayaaa…belum begitu mengenal Mas Fadly, maaf”
Keluarga Oom Priyo sangat menghargai keptusan kami, mereka paham aku dilahirkan sebagai anak masa kini yang sudah tidak mengenal istilah perjodohan.
“mungkin kalian harus sering ngobrol dulu, biar kenal..hehehe” Oom Pri mencairkan suasana
Fadly tersenyum
“Iya Rai, maafin Mas kalo jarang menghubungi Rai, dan tidak memberi tahu Rai terlebih dahulu tentang maksud kedatangan Mas sama Ibu dan Bapak hari ini, maaf Rai jadi kaget” Mas Fadly memang sangat santun, aku tidak bisa menyalahkannya, dia punya niat baik.
“tidak apa mas, Rai juga minta maaf, gak bisa kasih jawaban malam ini”
“ngomomgnya koo tegang begitu, santaaaiiii…kayak dialog pewayangan saja” oom Pri menimpali

Malam itu diakhiri makan malam bersama keluarga Oom Priyo di rumahku. Dan besoknya mereka akan langsung pulang ke Solo, kecuali Mas Fadly, dia kembali ke Bogor.

20
Hari-hari berikutnya aku masih dengan rutinitasku dalam bekerja di Kota Cirebon, aku tetap menerima Adjie yang selalu menjemputku pulang kantor dan menemaniku makan malam, kalo pagi biarlah Mang Yaya yang anter aku, Adjie bilang “kasian Mang Yaya kalo lapaknya direbut sama aku, hehehe…”

Giand pun tetap menghubungiku, lewat Hand Phone, begitu juga dengan Mas Fadly, aku jadi panggil Fadly ‘Mas’ karena sikap dia yang memaksaku memanggilnya ‘Mas’ padahal Giand saja yang usia nya 2 tahun di atas aku tak pernah aku panggil “aa” “akang” atau lainnya. Aku sudah mulai akrab dengan Mas Fadly, karena ternyata dia bisa bercanda juga dan tidak melulu bersikap kaku. Bahkan Mas Fadly berencana mengajakku berlibur ke Solo kalau aku ambil cuti lagi. Yaaa aku pernah minta diceritain Stasiun Balapan yang lagunya terkenal itu loooh, hehe..
***
“aku sudah memutuskan untuk menikah dengan mu Rainda”
“kamu yakin Djie?”
“sejak pertama kali ketemu sama kamu, aku yakin kamu akan meninggalkan tunanganmu dan menikah denganku”
Aku selalu tidak punya kata untuk menimpali ucapannya Adjie
“bukan karena hubungan mu dengan tunanganmu yang menggantung, tapi karena sebenarnya kamu sudah menerima aku, dan kamu sayang sama aku Rainda”
Aku memalingkan muka, aku tidak ingin Adjie melihat mataku, dan menangkap bahwa aku pun sering mencarinya kalau Adjie tidak menghubungiku, aku pun rindu padanya setiap kali dia tidak menjemputku pulang kantor dan menemaniku makan malam, dan aku selalu gembira saat ada disampingnya, nyaman saat berbicara dengan nya.
Adjie terkekeh…bukannya membuat malam ini jadi romantis, karena kita sedang membicarakan hal penting, dia malah menggodaku
“tuh kan kucing sheerk nya muncul lagi”
Aku manyun
“jangan pernah bilang ada yang melukaimu, aku tidak rela” Adjie berbisik padaku

21
“Perjalanan kita sudah cukup panjang Giand, dan aku tidak pernah bisa melihat ujungnya, ini sangat membingungkan aku. Aku perempuan Giand, tugas aku menerima, dan aku tidak mungkin menunggumu lebih lama, Ayah dan Ibu ingin aku cepat menikah, dan tak mungkin pula aku akan setuju dengan ide gilamu untuk kawin lari. Maaf kan aku Giand sepertinya kita memang tidak bisa meneruskan hubungan ini, meskipun aku menyayangimu dan aku pun tau betapa tulusnya kamu menyayangi aku”

Aku mengirimkan email untuk Giand, bukan sms, aku berharap Giand akan lama membuka emailnya, jadi aku punya waktu untuk mempersiapkan bagaimana aku harus bersikap atas reaksi Giand setelah membaca emailku. Aku ingin mengakhiri hubungan ini, pertunangan kita batal, dan kita tidak jadi menikah.

Hari dan tanggalnya sudah ditentukan 3 bulan lagi aku akan menjadi ratu sehari, begitulah istilahnya yang udah nempel buat para penganten.

22
Aku punya kesibukan baru sekarang, yes menyiapkan pernikahanku!
Akhirnya Rainda Malik menikah juga (itu nama lengkapku, dan Malik adalah nama belakang Ayah), semuanya aku list, mulai dari fitting baju, dekorasi pelaminan, make up, cattering dan tetek bengek lainnya yang membuatku mual dan puyeng. Ibu tidak setuju kami menggunakan Wedding Organizer
“nanti tidak sesuai dengan keinginan Nenek”
Yaaa tapi aku sempoyongan ngurusinnya, bolak-balik Cirebon-Bandung.
Ternyata menyiapkan pernikahan tidak semudah yang aku kira, dulu aku seneeeng banget comment temen-temenku yang mau nikah “nikmatin aja prosesnya”
Ternyata setelah aku alami sendiri, gak mudah memang menjalaninya, dikit-dikit
“Raiii…booking gedungnya sudah oke?” tinggal make Bu
“Raiii..warna hiasan cattering nya koo aga beda sama pelaminannya…coba cek minta disamakan”okey
“Raiii..sudah dipastikan pesanan makanannya?”siap bu
“Raiii…upacara adatnya Ibu pengen ada ini dan itu yaaa, sudah konfirmasi lagi?”Ibu aja deh yang mastiin, Rai gak begitu ngerti sama keseniannya
“Raiii…gimana Fitting bajunya sudah cukup ?” pas
“Raiii…undanganya sudah di tik siapa aja yang mau di undang?” buuu minta tolong kak Miranda sih ngetikkin daftar undangannya
Sampai keeee
“Raiii…jangan lupa pesen janur kuning yaaa”
Helllooo.. Ayah sama ibu kan sudah bentuk panitia pernikahan, kenapa semua nya Raiii…Raiii…Raiii…
Harusnya kan yang namanya penganten tau beres
“biar Rai tau gimana serunya nyiapin pernikahan, hehehe” gitu coba jawaban Ibu

23
Satu minggu sebelum hari pernikahanku, Giand menghubungiku. Sejak terakhir aku mengirimnya email tanda kita mengakhiri hubungan, ini kali kedua Giand menghubungiku, waktu itu ternyata Giand langsung menelponku dan memastikan kalau benar aku lah yang mengirim email itu padanya, Giand tidak percaya, dia menganggap aku menyerah akan perjuangan kita selama ini agar kita bisa bersatu.
“aku bisa bertemu denganmu Inda? Sebelum kamu menjadi milik sah seseorang”
Sebenarnya aku tidak berani, apalagi kalau ketauan Ayah dan Ibu, tapi ada sakit yang aku rasakan di dada Giand, itu karena aku, aku harus mengobatinya.
“aku tunggu kamu di Cirebon”

Kami berbicara panjang lebar, tapi tidak membicarakan nasib hubungan kami, tak sedikit pun ingin ada duka di antara kami, kami menikmati Kota Cirebon saat itu, saat ini aku dan Giand hanya lah teman biasa. Tidak ada yang perlu disesalkan karena awalnya kami adalah teman. Itu lah keputusan kami. Entah lah dengan perasaan Giand yang lain yang tak dapat aku tebak. Aku pun tidak ingin menebak-nebak karena tidak ingin mengganggu persiapan pernikahanku.

Tiga hari sebelum hari pernikahanku, aku sudah mengambil cuti dan pulang ke Bandung. Keluarga calon suami ku pun sudah memesan hotel untuk hari pernikahan kami di Bandung. Dan mereka akan tiba 1 hari sebelum akad nikah dilangsungkan.
“hmmm tinggal menghitung hari dan aku akan menjadi nyonya”
Serangkaian acara aku ikuti, mulai dari luluran, pengajian dan acara siraman.

24
Malam ini adalah malam terakhir aku menjadi Nona Rainda Malik, besok setelah akad nikah semua itu akan berubah..
Aku akan menjadi seorang istri.

Aku meminjam mobil Ayah dan pergi ke gedung tempat dimana besok akan dilangsungkan pernikahanku, katanya sih gak boleh penganten jalan-jalan…aaah sudahlah…aku tetap memaksa dan pergi.

Dekorasinya sudah hampir 80% beres, tinggal buat taman, mengatur letak round table, dan kursi-kursi untuk para tamu. Ada beberapa tempat yang dibuat lesehan, itu pesanan ku untuk teman-temanku agar bisa lebih santai menikmati rangkaian acara resepsi besok.

Aku melihat seseorang yang aku kenal duduk di salah satu bangku, aku menghampirinya
“Giand..sedang apa kamu disini?”
“hey Inda…penganten koo keluar rumah?” Giand tersenyum “aku takut besok tidak bisa datang”
“kamu harus datang Giand, kamu sudah janji”
Giand tidak menjawab, dan baru kali ini aku melihatnya begitu pucat
“kamu sudah makan?”
Giand hanya diam
“Giand aku minta maaf, tapi aku harus membuat keputusan”
“kenapa kamu tidak menunggu sebentar saja lagi Inda?”
Giand menunduk “keluargaku sudah berencana menyambung kembali hubungan kita Inda, ketika mereka dengar soal Fadly dan keluarganya melamarmu”
Aku tidak percaya apa yang kudengar barusan, yah beberapa bulan lalu memang ada telepon dari Ibu Giand, karena aku sedang sibuk kerja dan hari itu akhir bulan, banyak sekali deadline yang harus aku selesaikan, aku lupa menelpon balik Ibunya, Ya Tuhan!
“Sampai tiba-tiba ada email dari kamu, dan kamuuu…”
“Giand maafkan aku…akuuu…” aku tidak tau harus berkata apa, entah mengapa ada perasaan bersalah, karena aku merasa ada yang terlewatkan dalam episode ini.
“aku sudah mulai bersemangat kembali menyambungkan keluarga kita, tapi sepertinya kamu sudah tidak memberiku kesempatan”
Giand tampak sedih, tapi sedikit pun dia tidak menangis, hanya saja aku melihat tatapannya begitu kosong.
“aku bahkan sudah mempersiapkan cincin pernikahan untuk kita, aku ingin kasih kamu kejutan” Giand memberikan bingkisan kecil berbentuk hati dan di dalam nya ada dua cincin atas nama Rainda dan Giand.
“Oh Tuhan…kamu tidak pernah membicarakan soal ini Giand..”
“kamu sudah menentukan tanggal pernikahan”
Aku menangis, aku tidak tahu harus berbuat apa…bayangan ku kembali pada beberapa waktu lalu saat aku bertemu dengan Giand di parkiran Hotel Horison, ingat pada hari dimana Giand melamarku, dan ingat bahwa besok adalah hari pernikahanku tapi bukan dengan Giand, aku menangis. Menangis karena tidak tahu harus bagaimana.
Apakah aku masih menginginkan Giand. Aku tidak tahu.
Persiapan pernikahanku 3 bulan lalu membuat aku sangat yakin dengan pilihanku.
Dada ku berdebar kencang, bingkisan hati itu masih ada dalam genggamanku, aku mendadak sangat bingung. Ketika tiba-tiba dari belakang seseorang meraih tanganku.
Adjie.

“aku tadi telpon ke rumah, kata Ayah kamu ingin melihat gedung”

Giand berdiri menyeimbangkan posisi dengan Adjie, dua laki-laki berbadan tegap kembali berhadapan, kali ini keduanya ada di depan mataku, mata mereka saling memandang satu sama lain, ada yang tak perlu di katakan, tapi keduanya sangat paham dengan keadaan yang sedang terjadi. Adjie menangkap mataku yang basah dengan dua cincin pemberian Giand. Seperti biasa Adjie selalu bersikap tenang dan misterius. Tapi itu yang membuat aku suka padanya.

“kamu kan lagi dipingit Rainda, ga baik penganten malem-malem gini masih di luar”
“Adjie..akuuu..”
“sssttt…kamu tidak perlu menjelaskan apa pun kalo itu sangat berat buat kamu”

Malam itu jadi sepi, aku terdiam dan Adjie merangkul pundakku.
“Aku titip Rainda” mereka bersalaman.

14 April 2013
Nona Rainda Malik resmi menjadi Nyonya Raden Widjie Karama (Adjie). Banyak doa kuterima, senyum dan ketulusan menghangatkan hari pernikahan kami. Giand dan Fadly tersenyum menyaksikan Ijab Qabul Adjie dan Ayah. Terima Kasih Tuhan.