Dear Adik Ipar

Yeah, oke. Adikku belum menikah. Mungkin akan lebih tepat jika ditulis “Dear my future sister in law…” apa pun, kau adalah gadis yang akan menjadi adik iparku. Aku selalu berharap bisa melihatnya saat dimana dia ingin mengenal DienNya lebih dalam bersamamu, menjadi laki-laki sejati, dan tentunya kau adalah orang yang akan membantunya menyempurnakan sebagian agama.

Aku menulis surat ini untukmu, gadis pilihan adikku. Hari ini, karena aku tidak tahu kapan Allah SWT akan menghentikan rejeki hidupku. Usiaku terpaut tujuh tahun dengannya, cukup untukku melihatnya tumbuh. Aku masih ingat betapa lucunya dia saat berjalan masih menggunakan pampers, itu waktu dia masih berusia tiga tahun. Dan tentu aku masih ingat, saat aku meninggalkannya di kota seberang tujuh tahun lalu untuk belajar hidup sendiri, jauh dari pelukkan Ibunya.

Dia anak bungsu, satu-satunya saudara laki-lakiku. Aku pikir tidak berlebihan jika aku selalu mengatakan bahwa dia adikku yang paling ganteng. Dia dibesarkan dengan buncahan cinta kami, oleh karena itu jika cinta kami membuatnya menjadi anak manja, aku yakin kau adalah gadis yang akan membuatnya lebih mandiri. Tampar dia dengan tanggung jawab.

Ibu kami selalu berpesan padaku “bantu adikmu berdiri sampai hidupnya mandiri, karena saudara laki-laki akan menjadi pengganti orang tua setelah kami tiada. Jadikan dia teman baikmu.”

Duhai, gadis pilihan adikku. Aku mengenalnya lebih lama darimu, tapi kau yang akan mengenalnya lebih dalam daripada aku atau pun Ibu kami. Aku berteman dengannya lebih lama darimu, tapi kau yang akan menemani perjuangan hidupnya sampai titik akhir. Kau akan memberi pengaruh yang besar dalam hidup adikku, oleh karena itu aku yakin kau punya kelebihan yang membuat adikku memilihmu.

Seperti Ibu kami, aku juga merindukanmu untuk hadir dalam kehidupan adikku. Karena kau yang akan membantunya berdiri lebih baik dari yang pernah kami lakukan untuknya. Kami hanya memberi bekal dan membantu menyiapkan kehidupannya, tapi kau adalah perjuangan adikku membangun hidup yang sesungguhnya. Semoga bekal yang kami berikan cukup. Jika saatnya telah tiba, pergi lah ke dunia kalian, bangun lah hidup seperti yang kalian impikan.

Duhai, gadis pilihan adikku. Ibu kami membesarkan adik karena cinta, jadi tidak ada hitungan jasa. Hubungan adik dengan Ibu kami bukan tentang utang piutang, jalani saja peranmu dengan bahagia, tidak akan ada yang membebanimu untuk balas budi. Tapi, jika adikku merasa punya utang pada Ibunya, maka utang itu harus dia bayar lunas dengan membahagiakanmu. Jika kau bahagia hidup dengan adikku, maka mulia lah hidup Ibu kami.

Ibu kami menolak peribahasa “Kasih sayang orang tua sepanjang masa, tapi kasih sayang anak sepanjang galah.” Ibu kami takut ada malaikat lewat dan meng-Aamiiin-i peribahasa tersebut, Ibu kami lebih percaya bahwa jika cinta orang tua pada anaknya sepanjang masa, maka anaknya akan menemani masa-masa orang tuanya dengan cinta. Itu yang di Aamiiin kan Ibu kami.

Duhai, gadis pilihan adikku. Aku akan mencintaimu seperti Ibu kami yang selalu belajar menata hati akan kehadiranmu, agar saat kau hadir kami tidak menempatkan kecemburuan yang salah padamu. Aku dan kamu sama-sama perempuan, begitu juga Ibu kami. Perjuangan menjadi seorang istri itu tidak mudah, dan aku yakin hidup yang akan kau jalani dengan adikku pun tidak melulu mudah. Dimulai dari menjadi anggota baru dalam keluarga yang asing, jauh dari perlindungan Bapakmu. Kami memberikan penghargaan dan terima kasih kau mau menemani hidupnya.

Kau tau, apa yang diceritakannya tentang dirimu? Betapa dia sangat menyukai caramu tersenyum. Dia ingin manjadikan senyummu rumah, tempat dia pulang.

Duhai, gadis pilihan adikku. Hanya karena aku sangat menyayanginya, bukan berarti aku akan menyalahkanmu jika kau memiliki kekurangan. Lagi-lagi Ibu kami berpesan “kesalahan bukan untuk disalahkan, tapi jika ada satu hal yang salah kita harus segera membenarkannya agar menjadi benar.” Apalagi jika yang ada padamu hanya sebuah kekurangan, adikku punya kewajiban untuk melengkapimu. Dan itu tidak terlepas dari kekurangan kami mendidiknya.

Duhai, gadis pilihan adikku. Aku tidak akan benar-benar menjadi kakak perempuanmu. Tanya saja pada adikku, kakaknya banyak menuntut minta ini dan minta itu, tak jarang pula tuntutan tersebut menjadi beban baginya. Jadi, mari lah kita berteman. Adikku pun selalu merasa lebih nyaman saat aku menjadi temannya.

Jika suatu hari nanti adikku melukai hatimu atau menyiksa batinmu, katakan lah padaku. Aku ikut bertanggung jawab dalam mendidiknya. Bisa jadi, aku tidak menjadi contoh yang baik untuknya.

Duhai, gadis pilihan adikku. Jika hari dimana adikku meminangmu dan aku sudah tidak ada di dunia ini, berikan surat ini padanya agar dia selalu ingat untuk memperlakukanmu dengan baik.

Dini Lestari
Cirebon, 9 September 2017