CATATAN KINASIH

KINASIH
KINASIH

”Bapak pulaaangg… ” berlari gembira, biasanya Dzakiya menyerbu pelukan Bapak. Kemudian Ibu akan mengambil tas yang dibawa bapak, menyalaminya dan segera pergi ke dapur menyiapkan minuman dan makanan kecil kesukaan Bapak dengan suka cita. Maka, hari dimana Bapak pulang akan membuat kehangatan di rumah kami menjadi lengkap. Seperti itulah setiap kali Bapak pulang, kami akan menumpahkan segala rindu, mengacak isi tas Bapak mencari oleh-oleh dan berebut duduk di pangkuan Bapak. Bapak bekerja di luar pulau, di tanah Makasar tepatnya dan hanya bisa pulang 3 bulan sekali. Sejak kelahiran Malaika 5 tahun lalu, Ibu tidak lagi menemani Bapak bertugas dan memilih menetap di Bandung Jawa Barat.

Aku segera menuju pintu, menyambut Bapak. Kali ini tanpa berlari, pelan. Tidak seperti biasanya, teriakan Dzakiya saat Bapak pulang tidak berlanjut dengan pekikannya karena geli terkena kumis saat bapak menciumnya. Ya, tidak ada pemandangan Dzakiya digendong Bapak sambil berputar-putar. Tapi, Ibu dengan patuh mengambil tas Bapak dan berjalan masuk melewatiku yang masih mematung menyaksikan pemandangan berbeda saat Bapak pulang. Tidak bawel menyuruhku membantunya di dapur. Sendu.

Tidak ada kerut di dahi Ibu. Seulas senyum tetap tergambar di wajahnya. Setia.


1

“Tibo mulyo Kinasih, kamu dan Priambodo berjodo. Lihat, hitungan mulyonya tepat di tengah telapak tangan. Semuanya dalam genggaman” Artanti menyemangatiku untuk menerima lamaran Mas Pri saat itu. Iseng saja, kami mendatangi tenda peramal di pasar malam Klaten, kota kelahiran kami.

Pernikahanku dengan Mas Pri, adalah anugerah paling indah dalam hidupku. Betapa tidak! Alam semesta mengucap syukur dan bersujud bersama saat kami menyatukan dua keluarga besar dalam ikatan yang suci. Aku adalah wanita yang dipilih dan dipercaya keluarganya untuk dapat meneruskan waris yang cemerlang berdasarkan bibit, bebet dan bobot dari rahimku.

Tidak ada keraguan lagi, aku dan Mas Pri adalah teman sejak kecil. Keluargaku dan keluarganya adalah sahabat dekat, kami dijodohkan sejak kecil. Tentu, pernikahan kami adalah berkat Gusti Allah yang mengabarkan berita gembira untuk keluarga besar.

Mas Pri menjadikanku ratu di rumah ini, karena dia lah aku mengenal para bidadari dari benih yang ditanamnya di rahimku. Kami dikaruniai 3 waris cemerlang, Hannah, Dzakiya dan Malaika. Mereka adalah bukti ketulusan cinta kami.

Pada hari kelahiran Malaika, Mas Pri begitu gelisah. Dia dipindah tugas ke Makasar, dia tidak bisa menemani Malaika kecil beberapa hari ini.

“Kau pasti capek Mas, enam bulan lagi aku dan anak-anak akan menemanimu disana” Mas Pri mengangguk, menciumiku dan Malaika.

2
Dan sampai hari ini aku tidak mampu menemani Mas Pri di Makasar. Maaf. Bukan santunku terbungkam, hanya izinkan agar tidak ada yang melihat pedih ini dalam pengabdianku menjadi istri Mas Pri. Aku tetap memilih menjadi istri Mas Pri, yang meminta padaNya Sakinah Mawaddah Warrahmah.

”Sudah kodratnya, jika laki-laki tertarik pada wanita selain istrinya” itu kata Mbok Ning, saat aku memutuskan kembali ke Bandung dan tidak jadi menemani Mas Pri di Makasar. Mbok Ning sudah mengasuhku sejak kecil, sejak suaminya meninggal dia membantuku mengasuh Hannah, Dzakiya dan kini Malaika. Dia sudah seperti Ibuku, apalagi sejak Emak wafat menyusul Abah, pundaknya lah yang menjadi sandaran saat Mas Pri menoreh luka dalam pernikahan ini.

Artanti yang lebih dulu sampai ke Makasar, dan menemani Mas Pri disana. Ini memang sumpah kami bertiga sejak kecil untuk tetap bersahabat dan berbagi sampai kami menjadi nenek-nenek dan kakek-kakek.

“Ayo kita berjanji, kalau kita bertiga akan tetap bersama sampai tua” Mas Pri kecil menggenggam tangan kami, aku dan Artanti mengamininya. Dan kini, kami bertiga menjalani sumpah masa kecil kami. Mungkin karena sumpah ini, Mas Pri dan Artanti tidak perlu meminta ijinku saat mereka akan menikah.

Tidak bisa kubayangkan peluk cumbu Mas Pri yang jenaka dan selalu menyentuhku dengan kelembutan dibagi dengan Artanti, sahabatku. Hati ini meradang, saat aku menemukan diriku terpuruk dalam nelangsa disudut paling pedih dalam suka duka pernikahanku. Aku tidak tahu bagaimana Artanti menangis, meminta agar Mas Pri bertanggung jawab atas benih yang dia kandung. Mungkin Artanti pun menderita karena tidak ingin anaknya lahir tanpa Bapak, meski harus menusuk nyawa pernikahan sahabatnya sendiri.

Minggu depan, Mas Pri dan Artanti akan kembali ke Bandung untuk waktu yang lama karena Mas Pri dipindah tugaskan ke Bandung. Sudah lama aku tidak bertemu Artanti, mengobrol pun tidak. Ya, sejak 5 tahun lalu aku mendapatinya di rumah dinas Mas Pri sambil menggendong Geeta bayi seusia Malaika, buah hati mereka.

Tidak ingin aku melihat pudar cerah di mata bidadari-bidadariku saat Bapaknya pulang dengan tante kesayangan mereka, rumah ini harus terasa hangat.

Aku tidak sengaja membuka buku harian Ibu malam itu, mungkin Ibu lupa menyimpannya karena Malaika demam dan segera membawanya ke rumah sakit ditemani Mbok Ning.

Dia Kinasih, Ibuku. Wanita yang lahir dari rahim kesabaran, sejak Bapak berbagi kasih dengan Tante Artanti tak pernah sekalipun aku melihat kerut didahinya tanda beban dan pedih peri dihatinya. Ibu selalu mengulas senyum dan berupaya menghadirkan keharmonisan keluarga yang utuh untuk aku, Dzakiya dan Malaika dalam melewati masa-masa pertumbuhan. Ibu hanya mampu terdiam dan menunduk sambil memejamkan mata, saat tak mampu menampung air mata agar beningnya tak jatuh di pipi dan terlihat anak-anaknya.

Ibu sangat mencintai Bapak, maka ia mengobati memar dihatinya dan membuka tangan untuk wanita yang menjadi Istri kedua Bapak. Sejak seminggu lalu Ibu sudah membersihkan dan membereskan rumah untuk menyambut kepulangan Bapak dan Tante Artanti.

“Tante Artanti akan tinggal bersama kita sekitar seminggu atau.. sebulan, kamu bantu Ibu beres-beres ya, Hannah”


Lamunanku buyar, Bapak mengacak rambut dan mencium keningku. Aku lupa sejak tadi berdiri saja depan pintu dan belum menyalami Bapak. Ya, tatapanku lurus melihat Dzakiya begitu gembira dengan kedatangan Tante Artanti dan langsung menodongnya untuk jalan-jalan.

Bapak menangkap sikap kaku dariku kali ini, tapi tidak berkomentar. Mungkin Bapak paham, putrinya Hannah kini sudah besar dan merasakan kondisi pernikahan Ibu dan Bapaknya, kemudian membiarkanku berlalu meninggalkannya.

“Ibu baik-baik saja?” tanyaku saat membantu Ibu di dapur
“Apa Ibu terlihat tidak baik?” Ibu tersenyum, meski tidak memberiku kesempatan menangkap pandangan matanya. Aku ingin sekali memeluk pedihnya.

Ibu beranjak sambil membawa nampan berisi gelas untuk minum Bapak dan Tante Artanti “Hannah, kenapa bengong saja? Hayooo… bawa kuenya sayang, hati-hati jalannya” biasa saja aku dengar nada suara Ibu, tidak terdengar getir seperti yang aku sangka. Ibu, seperti tanpa masalah.

Ini kali pertama aku sangat mengkhawatirkan perasaan Ibu, sejak tidak sengaja membaca catatan Ibu di buku hariannya tentang Bapak dan Tante Artanti. Selama ini Ibu selalu membanggakan Bapak, Ibu seperti anak kecil yang melonjak gembira saat Bapak pulang atau ada telepon dari Bapak. Aku tidak pernah menangkap ada duka yang disembunyikan Ibu.

Pun tentang Tante Artanti, dulu dia sering berkunjung ke rumah kami. Mengajak jalan-jalan atau makan malam bersama di rumah. Ibu, Bapak dan Tante Artanti sudah berteman sejak kecil. Tante Artanti adalah teman kesayangan Ibu, begitulah Ibu membuat aku, Dzakiya dan Malaika menyayangi Tante Artanti.

“Kulo ridha Mas…” Bapak berlutut di pangkuan Ibu, Tante Artanti pun berlutut tak berani menatap Ibu. Pemandangan yang membuat tenggorokanku tercekat, tapi tak mampu menahan air mataku untuk jatuh.

Dia Kinasih, Ibuku. Selalu ada lautan maaf bagi orang-orang yang dicintainya. Biar pun hatinya pedih, Ibu jauh lebih tidak sanggup melihat orang-orang yang dicintainya bersedih. Meski aku belum cukup dewasa untuk memahami permasalahan orang tua, aku merasakan pergulatan batin Ibu. Antara cintanya pada Bapak dan egonya sebagai wanita yang dimadu.


“Dunia itu sangat besar, Hannah. Tapi, hatimu akan cukup untuk membawanya, maka bawa lah ia selalu besertamu. Jangan biarkan dunia yang membawamu.” kata Ibu 5 tahun lalu, saat memintaku memanggil Tante Artanti : Ibu.

#1Minggu1Cerita

28 thoughts on “CATATAN KINASIH

    1. Hihihi.. makasyiii ^^ bolom sampe kesana (masukin majalah) saya nulis.. saya masih iseng2 nulis.. masih belajar ^^

    1. Saya tulis ini fiktif sih.. tapi kalo ada yang mengalami hal yang sama, itu hanya kebetulan saja.. makasyi ya sudah mampir ^^

  1. Sedih banget baca ceritanya. Apapun alasannya, seharusnya dalam hidup ini kita hanya berkomitmen pada satu pasangan saja. Aku salut sama Ibu kamu, meskipun Bapak poligami, tapi Ibu tetap memegang teguh komitmennya, mencintai satu orang saja =)

    1. Pa Keven.. makasih nih udah mampir di rumah (baca: blog) saya.. Alhamdulillah ini bukan kisah pribadi. Cuma seneng aja nulis2 cerpen ato cerita2 yang ga melulu indah.. heheh..kata orang hidup ini keras dan tidak selalu sesuai harapan ^^

    1. Makasih Mba Fitri udah mampir…
      aku belom baca Novel Surga yang tak dirindukan… mau nonton pilemnya aja… hehehe (cari praktis)

      Sama-sama Mba Fitri Keep Writing.

Comments are closed.