Aku Ingin Menjadi Ibu

Tuhan,
Telah kulihat bulan
Sepotong di atas awan
Hendak kupinta padaMU
Berilah aku, Bintang.

Retrofleksi hampir membunuh impianku menjadi seorang ibu. Dokter mengatakan berdasarkan sebuah riset hanya 20% wanita di dunia yang mengalami retrofleksi. Kondisi ini adalah bawaan sejak lahir.

Setelah serangkaian pemeriksaan, mulai dari alergi seafood yang menyebabkan menumpuknya protein dalam rahim, infeksi tuba falopi kiri akibat gesekan saat pertama kali berhubungan suami istri, sampai ditemukan hasil diagnosa HSG yaitu retrofleksi.

“Retrofleksi kiri bu” begitu keterangan Dokter Zul saat mengamati hasil HSG.
“Kondisi apa itu, Dok?”
“Mulut rahim kiri Ibu abnormal, tuba falopi tidak menuju sel telur tetapi menekuk ke belakang, dalam kasus ibu menuju panggul, sehingga tidak mudah untuk dibuahi.”

Kata abnormal membuat bumi terasa berputar tidak pada porosnya, sepersekian detik sudah membuat hatiku merana. Dalam hati berharap ada kesalahan saat Dokter Zul mengamati hasil Diagnosa HSG.

Sejak usia tiga bulan pernikahan, aku dan suami sudah merindukan malaikat kecil dalam buaian. Berbagai program kehamilan kami lakukan. Dari mulai yang rasional sampai irasional, kami coba. Memperbanyak sedekah pada yatim dan dhuafa, pengobatan alternative dan lain sebagainya. Hasilnya, Tuhan belum menghendaki kami menerima anugerah paling indah dalam kehidupan.

Dokter Zulkifli adalah Dokter Kandungan kedua tempat kami konsultasi setelah Dokter Oneil. Dokter Zul kami pilih, karena dia satu-satunya dokter ahli infertilitas di Cirebon. Dan hasilnya sama seperti yang disampaikan Dokter Oneil. Mulut rahim kiriku abnormal.
Kondisi ini sangat berpengaruh pada reaksi psikis. Tidak mampu kusembunyikan rasa khawatir, cemas, kecil hati dan berbagai pikiran negatif lainnya yang bersarang di benakku, “apakah retrofleksi adalah kata lain bahwa aku tidak normal sebagai seorang wanita?” Sungguh, semua itu melukai perasaanku. Aku takut. Takut tidak bisa menjadi seorang Ibu, karena menjadi Ibu adalah impian terbesarku diantara impian-impian yang lainnya.

Pernah, beberapa kali teman-temanku melahirkan, biasanya aku akan sangat antusias dengan kelahiran seorang bayi, tapi dalam usia pernikahan satu tahun dan aku belum merasakan tanda-tanda kehamilan, membuatku mulai menutup diri. Bukan masalah waktu, kata orang satu tahun masih bisa dihitung pengantin baru. Ya, retrofleksi sedikit demi sedikit mengubahku menjadi pribadi yang cengeng dan sangat sensitif. Ada yang mengiris hati saat pertanyaan dilontarkan “Kamu kapan nyusul?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah yang tidak ingin aku dengar. Betapa tidak, aku tidak punya kuasa untuk menjawabnya.

Pun dengan undangan pernikahan, reuni atau bahkan sekedar kumpul dengan teman-teman. Aku meminta suami agar sepakat tidak terlalu lama saat menghadiri undangan pernikahan. Datang ke pernikahan, salaman dengan pengantin, prasmanan lalu segera pulang, atau bahkan tidak perlu ikut prasmanan, yang penting pengantin sudah lihat aku memenuhi undangannya. Aku menghindari banyak percakapan, tidak ingin kudengar ada yang bertanya “gimana, sudah isi?” kepalaku akan terasa panas dengan hati yang mengiris lalu membuatku terdiam beberapa hari meratapi kondisi.

Aku menenggelamkan diri dengan pekerjaan, bahkan hari Sabtu dan Minggu pun aku membuat event, agar punya alasan tidak bisa ikut kumpul saat teman-teman mengadakan acara berkumpul. Sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan BUMN, cukup membuat teman-temanku maklum jika aku sangat sibuk, dan kubiarkan siapa pun berpikir bahwa belum hadirnya buah hati dalam pernikahanku karena aku terlalu sibuk bekerja.

Setiap bulan yang kulalui seperti teror. Pintu kamar mandi menjadi sandaran menumpahkan sakit dan tangis, karena menstruasi adalah pertanda bahwa bulan ini Tuhan belum meniupkan Ruh kehidupan dalam rahimku. Rasa sakit di panggul kiri yang sebelum menikah aku kira karena kurang minum air mineral, terasa semakin sakit saat menstruasi datang.
Pagi di hatiku tertimbun daun yang layu dan aku gelisah menanti cerahnya matahari. Sampai kapan aku harus menanti? Burung pun bernyanyi lagu sedih.

“Kita harus ke dokter mana lagi Hun?” tanyaku pada suami, aku biasa memanggilnya Hunny.
Suamiku hanya menarik nafas panjang, sambil menyesap teh manis hangat racikanku.
“Hun?”
“Memangnya kenapa dengan Dokter Zul?”
“Sampai sekarang aku belum berhasil hamil, Hun”
“Sabar.”
“Sampai kapan?”

Dan biasanya percakapan ini akan berlanjut dengan rasaku yang super sensitif. Kemudian aku menangis, dan percakapan tidak menemui solusinya.

“Apa kita tidak mencoba inseminasi buatan atau bayi tabung? Aku dengar nasabahku berhasil dengan inseminasi buatan setelah konsultasi di Klinik Ester Rumah Sakit Hasan Sadikin.” lanjutku di sela isak tangis.
“Ada apa denganmu? Ini bukan kamu yang aku kenal!”
“Lalu harus gimana lagi?”

Retrofleksi pun sering membuat hubunganku dengan suami diwarnai percikan api. Perasaanku yang menjadi sensitif adalah pemicu pertengkaran-pertengkaran yang tidak bisa dihindarkan setiap bulannya.

“Badanmu baik-baik saja, sehat. Tapi pikiranmu yang tidak baik, pikiranmu tidak sehat.”
Baru kali ini ia mengguncang tubuhku. Tidak seperti yang sudah-sudah kalau tidak mengambilku dalam pelukkannya, ia akan mengacuhkan sampai emosiku mereda.

“Dokter terbaik mana pun tidak akan bisa membantu dalam program hamil ini, selama kamu sendiri tidak mau menolong pikiranmu” ia memperhatikan badanku yang semakin kurus karena kehilangan beberapa kilo gram dalam setahun.

“Tidak ada dokter lagi, termasuk Dokter Zul. Mulai saat ini stop semua kegiatanmu konsultasi dokter!” suamiku menatap dengan tajam.

Aku tidak percaya suamiku mampu berkata seperti itu, biasanya dia akan menyetujui semua saranku. Seperti ditampar aku dengan perkataannya. Dan bulir pun semakin deras membasahi pipi.

“Aku rindu kamu. Aku rindu kamu yang manja dan suka memanjakan aku” ianya menghapus air mataku. Aku terdiam.

“Aku rindu kamu yang selalu bersemangat, jalan kita masih panjang, dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Bukan kah kamu yang selalu mengingatkan aku bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang berani? Hadapi semua ini sayang, dengan hati yang ikhlas dan aku akan selalu bersamamu.” Ia mengecup keningku dan membiarkan tangisku habis dalam pelukannya.

***

Aku membuka tirai jendela pagi ini, ada sinar matahari masuk, kubiarkan hangatnya menembus relung jiwaku yang paling dalam. Jemariku menyentuh tuts piano yang sudah lama tidak kusentuh.

“Mau main Mozart atau Dangdut Koplo?” suamiku menggoda.

Sejak tak ku bukakan tirai jendela dan tak kubiarkan sinar matahari masuk menghangatkan celah-celah dalam hati, rumah ini pun kehilangan nyawanya. Terasa dingin, seperti tak berpenghuni. Suamiku benar, aku telah memenjarakan pikiran dalam kekalutan dan ketakutan. Tuhan menciptakan kita dalam kondisi yang tidak dapat kita pilih, tapi kita bisa memilih untuk menyikapinya. Seperti arah mata angin yang tidak dapat kita ubah, kita pun bisa mengatur layarnya.

Aku mengikuti sarannya, tidak pergi ke dokter. Bukan menghentikan usaha menjemput sang buah hati, tapi aku sendiri harus siap, fisik dan terutama mentalku harus positif. Membebaskan pikiran dari segala rasa takut dan kalut. Mengubah pola pikir, karena Tuhan selalu mengikuti sangkaan setiap hambaNya.
Aku berjanji, mulai hari ini tak akan kubanjiri catatan harian dengan air mata. Tuhan menciptakan dengan kondisi ini, karena Dia memilihku untuk menjadi kuat. Meyakinkan diri bahwa Tuhan tidak pernah salah dengan pilihanNya, tidak pernah salah dengan hasil karyaNya. Jika aku ingin menjadi seorang Ibu maka aku harus memantaskan diri, agar aku layak menjadi Ibu.

Dan aku memulai pembelajaran jadi seorang Ibu dengan tidak melewatkan sepertiga malam dan Dhuha untuk berbicara denganNya. Tuhan tidak pernah tidak melihat jerih payah UmmatNya.
Menjemput buah hati, tidak sama dengan menjemput impian lainnya. Saat aku mewujudkan impian memiliki rumah sendiri setelah menikah agar hidup lebih mandiri. Lalu impianku keliling dunia, baru lima Negara yang aku kunjungi, dan kelima Negara tersebut adalah Negara dalam daftar buku mimpiku. Karier ku sebagai seorang marketing yang semakin hari semakin mulus dan mimpi duniawi lainnya. Semua itu aku kejar dengan nalar. Aku adalah burung merak yang angkuh mengibaskan ekor, menantang setiap mata yang memandang.

Tapi impian tentang hadirnya sang buah hati, menundukkan hatiku lebih dalam lagi. Nalarku tak mampu menjangkaunya. Aku seperti burung pipit kecil yang terbang dihari yang panas melintasi garis matahari, jauh dari sangkarnya yang menghangatkan. Menjajal keberanian bertualang.

Aku merindukannya, ingin segera memeluk dan menatap matanya. Ingin kulihat bagaimana jika rupaku dan rupa suamiku disatukan. Semoga surat tugas sebagai seorang Ibu yang Kau tanda tangani segera tersemat ditanganku. Dan berikanlah aku dan suamiku kemampuan untuk menjaga dan mendidiknya.

“Tuhan, jangan Kau panggil kami tanpa meninggalkan dzuriat”

Menjadi wanita karier adalah impian terbesarku.
– Menjadi Guru dan sekolah pertama bagi anak-anakku
– Manager handal di rumah suamiku
– Menambah silaturahmi dengan berbagai kehidupan.
Karier sepanjang hayat. Tanpa Pensiun.
Kalau pun aku harus bekerja, aku sangat ingin bekerja di rumah. Ini lah impian tertinggi ku sebagai seorang wanita.

4 thoughts on “Aku Ingin Menjadi Ibu

  1. Tulisanmu membuat nafasku tak normal Diin,, seperti ada kelereng d tenggorokanku,, dan ingin kuteriakan namamu dan ku peluk..

    Aqu kaget mengetahui ini, aqu juga merasakan bagaimana perasaanmu..

    Aku memang melihat beberapa perubahan dari tubuhmu yg cubby dan segar, menjadi langsing,,
    Tapi kamu tetap cantik dini sayang..

    Sebelum aqu menikah, aqu juga d liputi kekhawatiran, sempat terpikir orang tua dulu termasuk nenek2 qta memiliki anak yg banyak sampai lebih dari 10, tapi saat ini.. 1-3 org wanita yg qta kenal tidak dengan mudah memiliki anak

    Sampai aqu mencari berbagai informasi kenapa bisa begini dan begitu bukan hanya untuk aqu tapi untuk mengetahui, bagaimanakah solusinya bila menghadapi hal itu..

    Buku2 motivasi dan doa untuk mendapatkan anak aqu beli untuk qu baca dan qujadikan hadiah untuk org2 yg qu kenal, aqu merasa bahwa ke khawatiran itu lebih besar d rasakan oleh wanita, karena dalam rahim wanitalah makhluk itu d titipkan,,karena itu juga aqu bisa merasakan apa yang kamu rasakan dini sayang..

    Ketika aqu dititipkan Arka aqu memang merasakan hal yang berbeda, hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, sebuah cinta yg begitu dalam yg belum pernah aqu rasakan pada siapapun,,
    RASA ini begitu indah, sampai aqu balik bertanya, RASA ini milik siapa?
    RASA sayang yang begitu tulus ini milik siapa?
    Sampai aqu menemukan, RASA ini milik Allah..

    Anakqu bukan milikqu,, melainkan titipan-Nya..
    Pemahamanqu tentang anak sebagai titipan begitu samar ketika aqu tidak mengetahui maksudnya..
    Maksud sebagai titipan..
    Titipan itu artinya bukan milikmu,bukan kah begitu?

    Yang membuat qta bahagia itu adalah RASA

    Di beri titipan itu memang begitu indah, tapi RASA itu ada pada setiap wanita Diin,,
    RASA itu Diiin.. RASA ituu..
    Kenapa aqu bisa berbicara seperti itu, Karena aqu melihat banyak wanita2 tulus yang memang memunculkan RASA itu..

    Allah menitipkan RASA indah itu pada semua wanita,,
    Maka semua wanita begitu mengiginkan pengungkapan RASA itu..
    Aqu melihat begitu besar RASA yg muncul dari dirimu..
    Rasa itu telah lebih dulu Allah titipkan padamu sayang..

    Itulah yang harus kamu syukuri saat ini, begitu indahnya RASA itu,,
    RASA itu hanya menunggu untuk kau bagi dan salurkan pada makhluk-Nya..
    Untuk kau ungkapkan RASA itu..
    Nikmati RASA itu..

    Apapun yang kau lakukan ke sana kemari itulah ikhtiarmu..
    Allah menyukai itu..
    Tapi yang terpenting adalah RASA..
    Pahami lebih dalam RASA itu..
    Kamu telah memunculkan RASA yg begitu indah Yaitu menjadi Ibu
    Hanya tinggal menemukan insan untuk mengungkapkannya dan membaginya..
    Sesungguhnya yg membuat hati bahagia iitu RASA..
    Hadapi semua dengan menumbuhkan RASA..
    RASA itu telah hadir dan RASA itu biarkan bertumbuh..
    Bagilah RASA itu aqu yakin kamu akan bahagia.. Aamiin..

    Luv U Dini.. ^_^

  2. Mengharukan sekali dan ingin menangis mbak Dini, mengingat istri saya begitulah, saat dia ingin memiliki anak, begitulah yang dia lakukan, berbagai cara, akan tetapi dia, bukan menjauhi orang-orang yang punya anak, malah mengurusnya, ikut mengasuhnya, dengan alasan, itu bisa mengundang bayi untuk rahimnya, gak tahulah, mungkin itu takhayyyul….atau apa,,,,

    Kisah yang sangat menyentuh, nyata ya mbak?

  3. Kang Dana, iya ini cerita tentang aku sendiri..ingin banyak didoakan..dan ingin melepas rasa takut. Berusaha untuk terbuka. Aku pernah sembunyi dan pernah lari dari kenyataan, itu menjauhkan aku dari orang-orang sekitar.

    Iya Kang, aku juga pernah denger salah satu mengembangkan rahim dengan cara merawat bayi itu juga melatih kepekaan menjadi ibu.
    Kang Dana dan istri gimana sekarang, sudah dapet momongan?

Comments are closed.